Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Aku Tak Punya Nama Lagi di Ujung Pengabdianku
echywanita.blogspot.com

Aku Tak Punya Nama Lagi di Ujung Pengabdianku

“Wajahnya sudah menghitam, seperti setan saja,” kudengar cibiran tajam yang pastinya tertuju padaku. Karena saat itu hanya aku satu-satunya yang sedang memasuki ruangan. Tiap kursi sudah dipenuhi wajah-wajah tak bersahabat yang menatap tajam ke arahku. Tak ada saat di mana aku berani menatap puluhan mata elang itu.

Dengan sisa kekuatan yang kukumpulkan, aku berjalan dan duduk di kursi yang sudah disediakan untukku. Suasana hening nan mencekam tiba-tiba memenuhi atmosfer ruangan itu. Tak ada bunyi yang terdengar. Bahkan aku takut untuk menghela napas. Sesak di dada pun menyerbu.

“Bapak dan Ibu sekalian, sebelum kita mulai acara Rapat Akhir Tahun koperasi sekolah kita, mari kita senantiasa bersyukur ke hadhirat Tuhan Yang Maha Esa,” sampai di situ, aku tak sanggup lagi mendengar suara pembawa acara yang bagaikan halilintar menyambar-nyambar di telinga.

Yang kudengar hanyalah degup jantungku yang semakin kencang dan aliran darah yang seakan terhenti. Aliran darah itu, tak lagi mampu memasok energi ke seluruh tubuhku. Aku tak berdaya.

Tak kumengerti lagi apa yang disampaikan oleh kepala sekolah dalam sambutannya. Kosong. Otakku kosong tak mampu berpikir apapun ditingkahi tatapan mataku yang hampa.

“Baiklah, berikut ini kita sampai pada acara laporan dari bendahara koperasi, setelahnya kita akan langsung pada sesi tanya jawab.” Kali ini suara pembawa acara sangat jelas kudengar.

“Bamm!!!” Kepalaku bagai dihantam palu godam. Dadaku terhimpit bongkahan batu yang sangat besar. Akhirnya saat yang menakutkan itu tiba juga.

Suaraku seakan tercekat di tenggorokan, tak bisa kukeluarkan. Beberapa kali intrupsi datang untuk mengingatkan volume suaraku yang kian mengecil. Aku semakin tak fokus membacakan laporàn yang lembar demi lembarnya sudah ada di tangan anggota.

Dadaku semakin berdebar kencang. Karena sesungguhnya, angka-angka yang tertera pada laporan itu hanyalah tulisan belaka. Tak ada lagi wujudnya. Ratusan juta rupiah itu telah hilang. Raib bersama hembusan nafsu keserakahan dan keteledoran yang melenakanku.

Aku tak kuat menahan ini, air mata pun tumpah. “Jangan menangis!” kudengar suara kebencian itu. Namun, semua salahku.

Rapat hari itu, seakan tak bisa diakhiri. Karena tidak ada solusi yang bisa kuberikan untuk mengganti raibnya benda bernama rupiah itu.

Aku semakin tak sanggup mengangkat wajahku. Bagaimana bisa, sejak aku ditugaskan di sekolah itu tahun 1985, dengan kepercayaan penuh mereka amanahkan jabatan berlimpah uang itu padaku.

Serasa satu keluarga yang saling menyayangi dan mempercayai. Tak terbetik kecurigaan mereka padaku. Aku lah yang mengotori kepercayaan saudaraku. Kemana wajah ini akan kuhadapkan?

Seakan tak berperasaan, semua yang ada pàdaku mereka lucuti habis. Namun, sesungguhnya aku lah yang tidak punya perasaan. Dimana hatiku ketika menghabiskan uang yang mereka kumpulkan hari demi hari. Nuraniku pun tak bisa nihilkan nafsu keserakahan yang menyelimuti.

Taspen puluhan juta tak kan pernah sampai ke tangan ini. Cincin emas sebagai tanda purna bakti yang menjadi tradisi di sekolah kami, jangan harap bisa hiasi jemari. Namun semua itu tak cukup untuk kembalikan rupiah yang telah pergi. Apalagi untuk membersihkan nama ini.

Sambutan ketua OSIS mewakili siswa untuk melepas masa pengabdianku hanyalah mimpi. Apalagi jabat hangat dan peluk erat dari rekan sejawat, tak kan mungkin kudapati.

Aku harus terima semua itu meski hati ini pilu. Namun semua karena salahku. Aku sendiri yang mencoret namaku dengan jelaga hitam dari jadwal acara yang paling ditunggu. Kini, aku tak punya nama lagi di ujung pengabdianku.

Semua ini terjadi karena aku menghambakan diri pada benda bernama U...A...N...G.

Kini, diriku terpuruk sendiri di dalam gelapnya hari-hari yang akan kulalui. Semoga ini akan jadi pelajaran hidup bagi saudara -saudaraku agar tak terlena dalam jabatan yang diamanahkan. Tak silau oleh kilauan rupiah yang menutupi mata.

Wallahu a’lam bishowab,

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 2 Pebruari 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Cerpen yang nggegirisi dan sarat pesan moral... Alhamdulillah bisa mengudap tulisan-tulisn bermutu Bu Rayhana dan Pak Legimin...

02 Feb
Balas

"Nggerigisi"? Sakjane opo...hehehe. Alhamdulillah Mas Eko masih sempat mampir ke sini. Jazakallah khoir, jadi pemantik semangat yang kadang meredup. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Mas.

02 Feb

Eeh...salah, "nggegirisi" hihihi...

02 Feb

Cerpen yang luar biasaa Bund..kepercayaan itu mahal, terima kasih atas tulisan yang bermakna ini...sehat selalu Bunda Rai...barakallah

02 Feb
Balas

Kepercayaan itu, mahal. Betul sekali Bunda. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan apresiasinya, Bu Guru. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

02 Feb

Ya Allah, ketika kepercayaan terkhianati, menjadi sesuatu yang menyakitkan. Sukses selalu dan barakallah

02 Feb
Balas

Sakiiiit!!! Teramat sakit! Jazakillah khoir untuk kunjungannya, Deqquuu. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Deq.

02 Feb

Akhir pengabdian yang tragis.....Na'udzubillahi min dzalik.....Inspiratif sekaligus miris....Barakallah Bunda Rai...

02 Feb
Balas

Na'udzubillahi min dzalik. Berharap Allah senantiasa melindungi dari hal sedemikian. Jazakillah khoir untuinkunjungannya, Bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bunda Rini.

02 Feb

Allohuakbar... Yang gini nih...tempat belajar...Barakallah Nana...

02 Feb
Balas

Alhamdulillah, bahagianya dikunjungi konco lawasku. Semoga kembali bisa belajar bareng, ya Toy. Jazakillah khoir untuk kunjungannya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

02 Feb

Sebagai kaca benggala agar senantiasa berhati-hati.Mksh cerpennya, Bun.

03 Feb
Balas

Bismillah. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari hal sedemikian. Jazakillah khoir untuk kunjungannya, Bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

03 Feb

Mudah-mudahan, tidak ada yang tertusuk duri. He..he,,.

03 Feb
Balas

Hehehe....Aamiin. Jazakallah khoir untuk kunjungannya, Pak Guru. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

03 Feb

Barakallah. Barakallah. Barakallah. Sangat kontemplatif. Inspiratif.

02 Feb
Balas

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Kontemplatif, untuk mengingatkan diri ini. Jazakallah khoir alien masih sempat singgah ke bumi. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Pak Guru.

02 Feb

Inspiratif bunda. Nauzubillah... semoga kita tak tergoda rayuan setan durjana. Sehat sukses selalu yaa bunda

02 Feb
Balas

Nauzubillahi min zalik. Sudah banyak terjadi, Bunda. Dari skala kecil hingga besar. Tak amanah. Jazakillah khoir untuk kunjungannya, Bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah .

02 Feb

Semoga sekedar imajinasi.... Salam takzim Bu Hana

03 Feb
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakallah khoir untuk kunjungan Pak Guru. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

03 Feb

Luarrr biasa.....keren bun

03 Feb
Balas

Biasa di luar.....,Bu. Hehehe. Alhamdulillah. Jazakillah khoir untuk kunjungannya, Bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

03 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali