Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Alah Bisa Karena Biasa
Gambar: Proses pemotongan gips dengan gergaji listrik. (Dokpri)

Alah Bisa Karena Biasa

Aku baru tahu kalau ternyata bunga-bunga anggrekku semuanya berbunga ketika aku akan ke Rumah Sakit tadi malam. Tiga pekan tidak keluar rumah, praktis membuatku tidak tahu bagaimana perkembangan tanaman anggrekku yang tidak seberapa itu di halaman rumah. Seakan mengerti, mereka menampakkan keindahannya untuk menghibur hatiku.

Sepanjang perjalanan menuju ke Rumah Sakit kunikmati saja posisi dudukku yang tidak “syantik” karena keadaan kaki kanan yang harus senantiasa lurus. Aku pun seolah sudah terbiasa dengan keadaan demikian. Kunikmati perjalananku ini sambil membayangkan “leganya” jika gips kaki ini dibuka nanti.

Di Rumah Sakit, ternyata jumlah pasien kali ini cukup banyak. Hampir satu setengah jam menunggu, barulah giliranku dan ternyata pasien terakhir. Aku menebak-nebak, mungkin karena katanya gips di kakiku akan dipasang yang baru, maka butuh waktu lama dan aku sengaja dibuat pada giliran terakhir.

Setelah diperiksa, ternyata dokter bilang gipsnya tidak dibuka tetapi dipendekkan sampai ke bawah lutut. Alhamdulillah , itu artinya aku bisa membengkokkan kakiku. Aku pun mulai menghayal untuk bisa mengajar. “Motong gipsnya pakai apa, dokter?” tanyaku agak khawatir karena gips yang keras bagai “batu” itu tidaklah mungkin dibuka dengan gunting ataupun pisau.

“Gergaji listrik, bu,” jawab dokter dan aku pun terkejut. Memahami kekhawatiranku dokter segera memegang alat pemotong itu meminta dari perawatnya. “Ibu, namanya memang gergaji listrik tetapi dia tidak melukai kulit,” dokter menjelaskan sambil menghidupkan gergaji itu dan menyentuhkan ke tangannya.

Saat itu aku benar-benar “senewen” membayangkan andai saat di gergaji, mata gergaji itu menyentuh kakiku…..maknyesss. Sehingga aku pun tidak bisa menyimak nama alat itu dalam bahasa kedokterannya yang sempat disebutkan dokter karena aku menanyakannya.

Meski sudah dijelaskan oleh dokter bagaimana sang gergaji listrik bekerja, namun tetap saja rasa khawatir memenuhi hatiku. Masalahnya, getaran akibat bekerjanya alat tersebut terasa sampai ke dalam kakiku. Beberapa kali perawat mengingatkanku untuk berbaring saja dengan tenang.

Dalam waktu setengah jam, proses pemotongan pun selesai. aku merasa lega melihat gips yang menutupi kakiku tidak lagi sampai ke paha. Sekarang, gips itu membalut kakiku dari bawah lutut hingga ke ujung telapak kaki.

Dokter menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan. “Mulai sekarang, ibu harus melatih untuk membengkokkan lutut perlahan-lahan. Karena selama tiga minggu ini terus menerus dalam keadaan lurus. Otot di situ sudah terbiasa memendek. Pastinya ketika ibu akan menekukkan lutut ibu sekarang, butuh pembiasaan dan latihan.” Dokter berhenti sejenak sambil menuliskan resep obat untukku.

“ Ibu harus sabar melakukan latihan ini setiap hari. Yang tidak boleh ibu lakukan adalah menjejakkan telapak kaki. Karena proses penyatuan dan perbaikan tulang sedang berlangsung. Jadi kaki yang sakit belum boleh menahan beban tubuh. Tiga minggu lagi, kita buka gipsnya tetapi tetap ibu belum boleh berjalan. Artinya, ibu masih menggunakan kursi roda atau tongkat penyangga tubuh.” Dokter menyelesaikan penjelasannya sambil berdiam diri sesaat untuk memastikan bahwa aku sudah mengerti.

Alhamdulillah, aku tetap harus selalu bersyukur. Meski serasa menghitung hari demi hari yang berjalan dengan sangat lambat. Pak dokter benar, ketika aku mencoba membengkokkan lututku yang sudah tidak dibalut gips lagi, aduuuh..,aku tidak bisa melakukannya. Sakit sekali rasanya. Lututku tidak “mau” membengkok karena sudah terbiasa lurus selama tiga minggu.

Aku pun mengerti, “Butuh pembiasaan agar lutuku bisa kembali dibengkok-bengkokkan.” Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghelakannya seakan menggantikan energi yang kugunakan untuk membengkokkan lutut tadi. Tak salah peribahasa kita yang mengatakan alah bisa karena biasa.

Wallahu a’lam bishawab

#edisisabarlahdiriku#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 11 Agustus 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kenapa kakinya bunda...lekas sembuh ya...tetap semangat

11 Aug
Balas

Oh...iya..bunda, kecelakaan tiga minggu yang lalu. Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakumullah khoiron katsiro doanya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...bunda.

11 Aug

Semangat bunda...benar kata dokter harus sabar berlatih. Saya dulu bisa menekuk lutut 90 derajat butuh waktu 2 minggu. Kontrol ke RS katanya harus bisa nekuk maksimal, jadinya sama perawat kaki saya dipaksa nekuk dan rasanya luarrrrr biasa. Waktu itu sedang hamil karena takut jatuh saya tetap pakai tongkat, satu minggu menjelang melahirkan baru saya lepas tongkat supaya bidan yakin saya bisa melahirkan normal. Dan alhamdullilah Hasna lahir dengan persalinan normal. Barakallah bunda, semoga lekas pulih

11 Aug
Balas

Alhamdulillah, jazakumullah khoiron katsiro. Betul bunda, sakitnya luarrrr biasa. Tiap kali menggerakkan kaki butuh energi yang banyak karena nafas seakan berhenti sejenak. Insya Allah tetap dalam keadaan sabar. Peluk cium buat Hasna. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah....bunda.

11 Aug

Terima kasih uti, hasna pasti senang sekali kalau ibunya cerita punya teman sebaik uti. Doakan hasna supaya menjadi anak sholehah ya uti ...

11 Aug

Insyaallah...Aamiin. Hasna pasti jadi anak sholehah, generasi qurrota a'yun yang siap mengisi Indonesia emas. Barakallah.

11 Aug

Alhamdullilah ya Aallah ...jazakillah khoir bunda

11 Aug

Sami-sami....bunda.

11 Aug

Semangat bunda....tinggal terapi supaya lekas pulih. Membaca artikel ini membuat saya teringat ketika patah di bagian tangan, waktu terapi tangan saya yang kaku dipaksa untuk menekuk dibagian jari jemari dan sambil berlelehan air mata saya patuhi instruksi dari perawat karena takut tangan saya tidak bisa berfungsi kembali. apalagi tangan kanan adalah posisi yang paling dominan. Alhamdulillah sekarang sudah bisa naik motor lagi... Barokallah. Semoga bunda selalu diberi kesehatan. aamiin...

11 Aug
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakumullah khoiron katsiro untuk transferan energi semangatnya ya bunda. Njih...bunda, sakit banget. Agak lama memang katanya proses penyembuhan ini, apalagi karena faktor usia yang sudah "lanjut" hehehe. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...bunda.

12 Aug

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali