Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
 Bagaimana Nasib Guru Indonesia Nanti?
Sumber: www.suarapemredkalbar.com

Bagaimana Nasib Guru Indonesia Nanti?

Ketika sebuah link dikirimkan teman penulis di grup wa Buku Antologi TNGP( Temu Nasional Guru Penulis), keningku berkerut membaca judulnya. Lantas ku klik, dan hatiku gundah demi membaca isinya.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani berencana mengundang guru asing atau pengajar dari luar negeri untuk mengajar di Indonesia.” (https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/3NOBVjWK-puan-berencana-impor-guru-asing-ke-indonesia)

Aku, seorang guru. Membaca kalimat di atas membuat hatiku benar-benar gulana. Aku menangkap siluet di balik kalimat yang sebenarnya ingin mengatakan guru dalam negeri tak berkualitas. Baper? Tidak, jawabku mantap.

Sebuah tulisan, harus memiliki ruh sehingga pembaca dapat menangkap dengan jelas maksud yang terkandung di dalamnya. Bagaimana membuat tulisan yang memiliki ruh. Pertama, si penulis harus benar-benar memahami materi yang ditulisnya. Akan menjadi lebih baik jika penulis pun mengalaminya sendiri. Dipastikan ada rasa tersendiri di dalam tulisan itu. Tidak berbeda dengan orang yang berbicara, demikian pula.

Apa hubungannya dengan hal ini? Pasti ada. Aku ingin bilang, sebaiknya jika kita membicarakan suatu hal, kita harus mengerti apa yang kita bicarakan. Kaitannya ke masalah impor guru tadi? Apakah impor guru suatu solusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di bumi pertiwi?

Memajukan kualitas pendidikan di negeri tercinta ini, menjadi tanggung jawab bersama. Ada guru, orang tua, sekolah, lingkungan, hingga departemen terkait bahkan juga siswa sang generasi penerus bangsa memiliki tanggung jawab yang sama.

Berbagai usaha jamak dilakukan hingga penetapan anggaran 20% bagi pendidikan pun sudah ditetapkan. Semua bertujuan demi peningkatan mutu pendidikan. Jika ternyata hingga saat ini, pencapaian tujuan masih jauh dari yang diharapkan mari kita fikirkan bersama mengapa demikian.

Seperti yang diberitakan meski nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) 2019 mengalami sedikit kenaikan dari tahun lalu, namun masih berada di bawah standar pencapaian kelulusan. Dimana nilai standar kelulusan siswa adalah 55 dari skala 0-100. Hasil ini merupakan refleksi kemampuan guru dalam melakukan proses pembelajaran. Demikian menurut Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Bambang Suryadi. Masih ditambah lagi dengan nilai Uji Kompetensi Guru (UKG) secara nasional yang masih rendah yaitu 67,00 dari skala 100 pada tahun 2017. Maka, cukup alasan untuk menjadikan guru sebagai penyebab rendahnya kualitas pendidikan di negeri ini.

Jika kemampuan guru menjadi penyebabnya (kita abaikan saja faktor lain) maka penyelesaiannya kita mulai dari sini pula. Ceritanya bisa panjang lebar yang tentunya jadi meluas.

Sangat ironi jika guru yang notabene alumni dari fakultas keguruan dan pendidikan diragukan kemampuannya mengajar dan mendidik. Bagaimana ia bisa dinyatakan lulus dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan kalau ternyata tak memiliki kompetensi untuk itu?

Karena kehidupan ini dinamis, begitu juga dunia pendidikan maka bersamaan dengan itu kemampuan seorang guru harus terus diasah dan dilatih. Berbagai pendidikan dan latihan pun digelar sehingga akan dihasilkan guru yang berkompeten dan berkualitas dalam bidangnya.

Sayangnya, masih banyak guru yang tidak mendapat kesempatan untuk ini. Kiranya ini menjadi PR bagi instansi terkait agar diklat dapat sampai ke semua guru secara merata. Bukan tidak ada guru “spesial diklat”, yang kerjaannya hanya mengikuti diklat kesana-kemari sementara ada guru yang tidak pernah ikut sama sekali.

Guru manusia biasa yang bukan dewa tetapi harus bisa seperti dewa. Masih sangat banyak guru dengan kesejahteraan di bawah rata-rata, honor yang didapat jauh lebih rendah di bawah UMR tetapi harus berdedikasi tinggi. Jika mencoba bersuara menuntut kesamaan hak, suaranya terdengar sumbang. Katanya, “Guru tak boleh unjuk rasa.”

Di tengah keniscayaan seorang guru untuk meng-upgrade kualitas dan kemampuannya, wacana impor guru dilontarkan. Menyakitkan! Ini sama saja dengan mengatakan guru tanah air tak layak pakai.

Mengimpor guru dari luar negeri, pastinya butuh biaya yang tinggi. Atau, guru luar negeri itu mau digaji Rp. 300.000,- per bulannya seperti yang diterima oleh sebagian besar guru honorer di negeri ini?

Keukeuhnya sang Menko PMK untuk mengimpor guru terlihat pula dari pernyataannya yang mengatakan jika terkendala bahasa akan disediakan banyak penerjemah serta perlengkapan alih bahasa.

Biyuh...biyuh...., betapa kayanya pemerintah kita sehingga bisa mengeluarkan dana untuk mengimpor guru dan penerjemah serta perlengkapan alih bahasa di tengah mirisnya guru-guru honorer yang sudah mengabdi puluhan tahun menyelamatkan pendidikan nasional dengan pendapatan yang dinilai tidak memanusiakan.

Duuuh..., bukannya lebih baik dana itu untuk memperbanyak diklat yang bermutu untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi guru, memperbaiki sistem kurikulum belajar dan mengajar, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan terhadap guru, melengkapi sarana dan prasarana pendidikan agar menjadi lebih baik lagi.

Janganlah mengimpor guru. Guru yang ada pun sudah sangat berlebih, sehingga untuk memenuhi kewajiban tatap muka 24 jam sebagai syarat penerima tunjangan profesi guru harus sikut sana sini.

Menurut Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim, kebutuhan guru kita setahun hanya 40.000 guru, sementara lulusan pendidikan guru 300.000 guru per tahun. (https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/zNALemZK-igi-rencana-impor-guru-sungguh-mengerikan)

Data ini menunjukkan betapa telah terjadi surplus guru. Belum lagi mahasiswa pendidikan yang akan tamat. Jika impor guru, akan dikemanakan guru yang ada?

Terwujud atau tidak rencana itu, hikmah terpenting bagi kita para guru adalah agar selalu semangat mengembangkan potensi dan kemampuan diri. Tidak lagi terlena dalam zona nyaman.

Kita pastikan bahwa kita sangat pantas dan tak layak digantikan oleh mereka. Meski mungkin saat ini kemampuan mereka bisa saja lebih tinggi dari kita, namun ada satu yang mereka tidak punya yaitu rasa nasionalisme di dada.

Mari kita satukan tekat untuk wujudkan cita-cita pendidikan nasional, terciptanya generasi yang siap memasuki era 4.0 sebagai pengisi kemerdekaan bangsa.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisihebohimporguru#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 12 Mei 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ya, kita dihebohkan dengan berita yang seakan mengancam guru di Indonesia. Seharusnha memang sang menteri jangan asal bicara dan meresahkan, sudah ada ahlinya membuat kebijakan tentunya dengan banyak pertimbangan. Kalau pertukaran untuk. Saling melengkapi dan menguntungkan boleh lah. Salam sehat dan damai di hati dengan selaluu berbaik sangka

12 May
Balas

Betul, Bunda. Semoga kita para guru bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Jazakillah khoir untuk kunjungan Bunda. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bunda.

12 May

sekali guru tetap guru! Salam kompak ! Bun

12 May
Balas

Mantafff...Pak Guru. Semangat. Hidup guru ! Selamanya. Jazakallah khoir untuk kunjungan dan atensinya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Pak Guru.

13 May

Semangat para guru Indonesia. Kita bisa ... Sangat menarik Bunda Rai...salam sehat dan sukses . Barakallah

20 May
Balas

Semangat...semangat...!!! Kita pasti bisa. Jazakillah khoir untuk kunjungannya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bu Guru.

20 May

Semoga yg terbaik diberikan utk guru nasional. #stopimportguru

12 May
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Stop impor guru! Jazakillah khoir untuk kunjungannya, Bu guru Syantiiq. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah....Mia.

12 May

Sama² uti chantiq

12 May

Barakallah.

12 May

Subhanallah, paparan komprehensif dalam sikapi kebihakan pemerintah teekait impor guru. Ironi dan miris memang, guru yang ada bahkan berlebih dengan honor pun "mengurut dada" harus pula bersaing dengan orang asing, yang norabenenya tak miliki rasa nasionalismenya. hadeuh bagaimana pola berpikirnya yah. Semoga ada kebijakan yang lebih bijak dan lebih nasionalis. Amin. Teruntai doa untuk Kakakku tercinta agar tercurah rahmat Allah untuk kesehatan dan barakallahu fiik untuk kesehatan Kakak dan barakallahu fiik

12 May
Balas

Semoga akan ada kebijakan yang berpihak pada nasib guru. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doanya, Deqquuu. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Deq.

12 May

Mudah-mudahan ini hanya separti burung beo saja. Sekedar hanya ocehan belaka, tapi semua harus kita dikritisi. Barakallah Mbah Uthi sehat selalu

12 May
Balas

Oh...burung beo, hanyanbisa ngomong tapi ndak ngerti, Mbah Buya. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doanya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Mbah Buya.

12 May

Potret keluarga literat, salam sehat dan sukses dari Bumi Dawet Ayu Banjarnegara

15 May

Potret keluarga literat, salam sehat dan sukses dari Bumi Dawet Ayu Banjarnegara

15 May

Alhamdulillah, ada Pak Omank mampir jauh-jauh dari Banjarnegara. Jadi ingat lomba menulis Dawet Ayu-nya Pak Omank. Jazakallah khoir untuk kunjungannya, Pak. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Pak Omank.

15 May

Harusnya menteinya aja yang dikespor bunda..bukan gurunya yang diimpor..hihi

12 May
Balas

Hihihi....aya..aya...wae, Bu Guru Syantiiiq ini. Tapi, betul juga tuh. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan atensinya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bu Ilmi.

12 May

Harusnya menteinya aja yang dikespor bunda..bukan gurunya yang diimpor..hihi

12 May
Balas

Barakallah.

12 May

Setuju Bunda, supervisi yang jelas dan berkala kepada guru-guru, pemberian pelatihan, akan membuat guru bersungguh-sungguh melaksanakan tugas, semoga impor guru tidak terjadi

12 May
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Masih banyak cara lain yang jauuuh lebih baik untuk peningkatan kualitas pendidikan dari pada impor guru. Jazakillah khoir untui kunjungan dan apresiasinya, Bunda Sriyatni. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bunda.

12 May

Keren buk

13 May
Balas

Alhamdulillah. Jazakallah khoir untuk kunjungannya, Pak Guru. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah.

13 May

Hadeuuh ... aku ikut prihatin bunda... semoga impor guru hanyalah sebatas wacana saja.......

12 May
Balas

Betul, Bunda. Semoga sebatas wacana saja. Wacana yang sudah melukai hati guru. Jazakillah kjoir untuk kunjungannya, Bunda. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bunda.

12 May

Saya merinding membacanya, sebab saya selalu buat status di WA, mengapa ada impor guru,? Apakah gurunya guru tidak dipercayakan untuk memberikan Diklat bagi kami selaku guru?

14 May
Balas

Semoga kita tetap bisa menjadi tuan di negeri sendiri. Mempersiapkan tunas-tunas bangsa menghadapi era 4.0. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan apresiasinya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bu Guru syantiiiqqqq.

15 May

mungkinkah guru dianggap seperti garam? bisa diimpor. siapakah yang tak kenal garam? manfaatnya sangat banyak harga sangat murah. jika masakan tak ada garam apa yang terjadi? hambar tanpa rasa. begitukah nadib guru kita, banyak berjasa tapi diberi gaji rendah, masih belum puas, impor lagi dengan berbagai maksud tersembunyi di hati para petinggi.

12 May
Balas

Jazakallah khoir telah melengkapi tulisan ini, Pak Guru. Jika manfaatnya seperti garam, alhamdulillah. Tapi, nasibnya...janganlah. Semoga wacana itu tidak terwujud. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Pak Gupres.

12 May

tulbetulbetul.. semoga tmn2 semua ttp semangat sbg guru

15 May
Balas

Tetap semangat. Kita buktikan bahwa kita bisa. Terimakasih untuk kunjungannya, Pak Guru. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Salam Hymne Guru.

15 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali