Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Bu Arin, Ini Bukan Cinta Biasa ( Bagian 15 : Tampilan Boleh Rocker Tapi Hatinya Dangdut )
Sumber: Emulatoria.id

Bu Arin, Ini Bukan Cinta Biasa ( Bagian 15 : Tampilan Boleh Rocker Tapi Hatinya Dangdut )

Bu Arin melirik ke arah kaca spion di depan driver online yang ditumpanginya. Mencoba memastikan bahwa abang driver tidak melihat ke arahnya.

Masalahnya, bu Arin sedang tersenyum sendiri mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Tapi seandainya pun melihat, pastilah abang driver tidak bisa mengetahui jika bu Arin sedang tersenyum sendiri. Wong saat itu bu Arin mengenakan niqob (cadar).

Tadi pagi, bu Arin masuk ke kelas XII IPA 2. Seperti biasa, sebelum pelajaran dimulai ia mengecek kehadiran siswa-siswanya. Kebiasaan ini, selain memang untuk mengetahui keberadaan siswa, juga membuat ia lebih kenal dengan mereka. Tambah lagi, juga bermanfaat bagi siswa untuk mempersiapkan diri memasuki materi pelajaran.

“Bidadari…?” bu Arin memanggil salah satu siswanya. Bu Arin paling senang memanggil nama ini. Dalam pikiran bu Arin, sungguh luar biasa doa dan harapan orang tua siswanya itu dengan memberi nama anaknya “Bidadari”. Bukankah Bidadari merupakan gambaran perempuan yang cantik dan baik hati ?

Tapi bu Arin tidak menemukan sang Bidadari. “Bidadari sakit, bu,” terdengar suara Sakinah menjelaskan keberadaan teman sekelasnya itu. Bu Arin mengalihkan pandangannya pada Sakinah setelah tidak menemukan Bidadari di bangkunya.

“Bidadari sakit apa?” tanya bu Arin kembali. “Hari Senin kemarin tu kan bu, sepulang les sore, Bidadari beserak bu,” Rizky membantu Sakinah menjelaskan sakitnya Bidadari. “Beserak” adalah istilah anak-anak muda di Medan untuk menggambarkan kecelakaan lalu lintas.

“Jadi gimana?” bu Arin melanjutkan rasa ingin tahunya. Dia pun jadi teringat kembali apa yang dialaminya tiga bulan yang lalu. “Duuh…nyerinya.”

“Kakinya terkilir, bu..,” terdengar sahutan Ryan dari sudut yang lain. Di dalam hati bu Arin bersyukur karena Bidadari tidak mengalami hal yang lebih parah. “Tapi, katanya Bidadari mau datang koq bu hari ini,” Sakinah kembali bersuara.

Ternyata betul apa yang dikatakan Sakinah. Terlihat di arah pintu, Bidadari berdiri dan menganggukkan kepalanya memohon izin untuk masuk ke dalam kelas.

Di tangan kanan, ada krug yang membantunya berjalan. Bu Arin tersenyum dan menghampiri Bidadari diiringi rasa gembira teman-temannya. “Maaf ibu, Bidadari terlambat,” ucap nya penuh santun pada bu Arin.

Bidadari, sesuai dengan namanya memang anak yang cantik, baik hati ditambah bonus pintar lagi. Tak heran jika teman-temannya sangat menyayangi.

Adalah Habib, yang saat itu hanya diam tertunduk tidak seperti teman-temannya yang semua melihat ke arah Bidadari yang sudah mulai melangkah ke bangkunya dengan agak tertatih. Mata bu Arin sempat menangkap “kejadian langka ini”.

Masalahnya, Habib itu anaknya kepo habis. Kelakarnya suka bikin “gerrr” seisi kelas. Saking keponya, Habib ini “ngangeni” lho. “Ciyeee…, Habib.” Belum hilang rasa heran bu Arin, sudah terdengar pula suara Ryan mengomentari sikap Habib. “Apa pula ni,” bu Arin bertanya sendiri di dalam hatinya.

“Habib, bu. Gak tega lihat Bidadari sakit kayak gitu,” Ryan seakan mengerti apa yang dipikirkan bu Arin. “Tampilannya aja tu bu yang rocker, hatinya dangdut bu,” suara Sakinah memecah tawa teman-temannya.

Bu Arin melihat, baik Bidadari ataupun Habib tertunduk malu. Bu Arin segera mengerti apa yang dimaksudkan siswa-siswanya. Ahh…mungkin ini salah satu yang membuat guru awet muda…hehehe.

Masih dengan senyum di balik niqobnya, bu Arin justru mendapat pelajaran lain dari kejadian Bidadari dan Habib tadi. Bahwa menilai seseorang tidak bisa sekedar dengan menilai “luarnya” saja.

Lihatlah Habib, siapa sangka dengan tampilannya yang kepo habis ternyata hatinya mellow. Atau, karena hatinya sedang terserang “Virus Merah Jambu”, Habib yang tahu.

Bu Arin masih dengan senyuman di balik niqob. Selalu ada sesuatu yang membahagiakan memenuhi hari-hari bersama siswanya.

Bu Arin, ini bukan cinta biasa.

#edisikuatkanhati#
Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 6 Oktober 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wowwww makin asyik ceritanys. Bu Arin memang bukan guru biasa, barakallah, smoga rahmat Allah tercurah untuk kakak. Salam sehat

06 Oct
Balas

Hehehe...ada ajjjaaa....deqquuu. Jazakumullah khoiron katsiro. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah....deqquuu.

06 Oct

Kalau saya hati dangdut tampilan campur sari bun...he...he...sukses selalu buat Bu Arin yang selalu punya cerita tentang muridnya....

06 Oct
Balas

Hihihi....assyiiik tu, bunda Rini. Jazakumullah khoiron katsiro selalu mampir tempat bu Arin. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali