Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Bu Arin, Ini Bukan Cinta Biasa ( Bagian 17 : Jangan Harap Bisa Bernafas Jika Tidak Ada Air)
Sumber: Emulatoria.id

Bu Arin, Ini Bukan Cinta Biasa ( Bagian 17 : Jangan Harap Bisa Bernafas Jika Tidak Ada Air)

Beberapa siswa berjalan sungkan mendahului bu Arin. “Permisi bu, kami duluan ya bu ?” begitu pamit mereka tiap kali ingin melewati bu Arin. Pastinya bu Arin maklum, bagaimana mungkin orang-orang harus menunggu langkahnya yang tertatih-tatih dengan walking frame.

Pernah juga bu Arin berkelakar dengan siswanya yang dengan sabar menemaninya berjalan dari atau menuju ke kantor. “Bisa gak ya, lari pake walking frame ini. Biar cepat nyampenya?”

Tentunya anak-anak mengerti tidak harus menjawab pertanyaan gurunya tersebut. Mereka hanya tertawa bersama saja sambil mengiringi langkah bu Arin satu demi satu.

Memulai pelajarannya hari itu, bu Arin meminta dua siswanya maju ke papan tulis untuk menuliskan persamaan reaksi kimia fotosintesis. Hal ini dilakukan bu Arin untuk mengetahui “modal” siswanya mengenai fotosintesis.

Masalahnya, pelajaran fotosintesis ini sudah mereka peroleh ketika di kelas VIII SMP. Bu Arin memang begitu, selalu mengingatkan siswanya bahwa pelajaran yang diajarkan di bangku sekolah selalu berkelanjutan dari SD, SMP, SMA dan seterusnya. Hanya kedalaman materinya yang berbeda-beda.

Di situlah bu Arin mengingatkan pada anak-anak pentingnya membaca. Karena, lupa menjadi bagian dari sifat yang manusiawi. Maka untuk mengatasinya, harus selalu membaca.

Coba kalian perhatikan persamaan reaksi yang ditulis oleh Rizqy dan Hadi,” pinta bu Arin pada seisi kelas ketika Rizqy dan Hadi selesai menuliskan tugasnya di papan tulis.

Bu Arin pun meminta siswa lainnya untuk menanggapi apa yang sudah tertera di papan tulis. “Hadi yang betul, bu,” Desi memberikan tanggapannya. “Kalau begitu,coba dibaca yang keras, Des,” bu Arin menyahuti tanggapan Desi.

“6H2O ditambah 6CO2 dengan bantuan energi cahaya matahari akan menghasilkan C6H12O 6 dan 6O2 , bu.” Desi menyelesaikan tugasnya membaca apa yang dituliskan Hadi di papan tulis.

Kemudian mereka pun beralih pada tulisan Rizqy dan mengevaluasi kesalahannya. Dengan demikian semua mengetahui letak kesalahan, terutama bagi Rizqy tentunya.

Bu Arin pun mulai masuk pada materi pokok, menjelaskan proses-proses yang berlangsung pada peristiwa fotosintesis sehingga didalam ekologi, tumbuhan mendapat predikat sebagai “Produsen” karena menghasilkan oksigen bagi mahluk hidup lainnya.

Dari persamaan reaksi yang dituliskan Hadi, sekarang kita lihat apa yang menjadi bahan dan hasil dari proses fotosintesis,” bu Arin mengajak anak didiknya untuk kembali memperhatikan tulisan Hadi di papan tulis.

Bu Arin pun meminta Arif untuk menjawab pertanyaannya. Namun Arif terlihat cengengesan tidak bisa menjawab. Pertanyaan dialihkan pada Nadya.

Bahannya air dan karbondioksida, sementara hasilnya glukosa yang disimpan didalam tubuh tumbuhan dan oksigen yang dikeluarkan ke lingkungan, bu,” Nadya berhasil menjelaskan dengan baik.

Bu Arin merasa lega dengan jawaban Nadya dan kembali melanjutkan penjelasannya.

Selama ini kita mengenal fotosintesis sebagai proses pembuatan zat makanan dengan bantuan cahaya matahari. Namun sebenarnya, tidak keseluruhan proses didalam fotosintesis itu menggunakan cahaya. Ada dua tahapan reaksi didalam fotosintesis yaitu reaksi terang dan reaksi gelap”.

“Disebut reaksi terang karena menggunakan cahaya, sementara itu berikutnya disebut reaksi gelap karena pada proses itu tidak menggunakan cahaya.” Bu Arin menghentikan penjelasannya dan meminta Dwi mengulangi apa yang dijelaskannya.

Untuk memastikan siswanya mengerti apa yang dijelaskannya, bu Arin mengulangi pertanyaan yang berhubungan dengan hal tersebut pada siswa lainnya.

“Pada reaksi terang, energi cahaya matahari digunakan untuk memecah air (H2O) menjadi ion Hidrogen (2H+) dan gas oksigen (O2) serta elektron. Gas oksigen yang dihasilkan pada reaksi terang ini dikeluarkan ke lingkungan untuk dipergunakan mahluk hidup lainnya dalam proses pernafasan.”

Bu Arin berhenti dan memandang ke seluruh penjuru ruangan kelas. Mencoba menyelami wajah-wajah anak didiknya. Sebelum ia masuk pada reaksi-reaksi yang lebih rumit lagi.

“Sebelum kita melangkah lebih jauh lagi, ibu persilahkan kalian menyampaikan apa yang terpikir didalam benak kalian dengan penjelasan awal tadi,” bu Arin memberi kesempatan pada siswanya untuk mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan apa yang dijelaskannya.

Andika yang duduk di deretan tengah, mengangkat tangannya dan dengan ragu berkata,”Jadi bu, kalau tidak ada air, kita tidak bisa bernafas dong.” Jelas terlihat ekspresi keraguan di wajahnya.

Sementara itu, kelas pun mulai berisik. Bu Arin bisa menangkap berisiknya kelas. Mereka merasa tidak setuju dengan pernyataan Andika. Masalahnya, bernafas membutuhkan oksigen, bukan air.

Begitulah, didalam kelas sering ditemukan pemikiran anak yang terasa aneh namun ternyata bisa dibuktikan kebenarannya. Di sinilah guru mengenali siswa dan menggali potensi yang dimilikinya. Karena ternyata banyak hal-hal yang luar biasa pada mereka. Maka, tugas guru pula mendampingi mereka untuk bisa mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Jujur, saat itu bu Arin pun masih perlu meraba dengan pernyataan Andika. Walau kemudian bu Arin bisa menangkap apa yang dimaksudkan Andika. Namun sebelum ia menjelaskan, bu Arin melemparkannya pada siswa lain yang ingin menanggapi pernyataan Andika.

Dari tiga orang yang menjawab, dua diantaranya tidak sependapat dengan pikiran Andika. Adalah Fikri yang kemudian sependapat dengan Andika. Begini Fikri menjawab, “Betul bu, jika tidak ada air, kita tidak akan bisa bernafas. Hal ini bisa kita lihat dari proses fotosintesis tadi.” Fikri berhenti menjelaskan sambil melihat ke papan tulis. Mencoba mencari lanjutan jawabannya di situ.

Sambil melihat kea rah papan tulis, Fikri melanjutkan argumentasinya,”Hasil dari fotosintesis adalah oksigen yang kemudian berguna bagi semua mahluk hidup untuk bernafas. Tetapi kita bisa melihat bahwa bahan untuk berlangsungnya fotosintesis adalah air. “ Fikri berhenti lagi dan memandang ke arah bu Arin seolah meminta penguatan bagi argumennya.

“Makjleb” rasa di dada bu Arin. Puas dan bahagia rasanya mendengar penjelasan siswanya itu. Bu Arin tersenyum dan meminta semua siswa memberikan aplaus buat Fikri. Sekarang bu Arin beralih pada Andika yang memulai “persoalan” ini.

Dika, bisa melanjutkan penjelasan Fikri?” todong bu Arin pada Andika. “Kalau Dika bisa menambahi lagi penjelasan Fikri, pasti semuanya akan menjadi lebih jelas lagi,” tambah bu Arin.

Iya bu, saya memang berpikir seperti apa yang dikatakan Fikri. Pada reaksi terang itulah, air dipecah menjadi molekul hidrogen dan oksigen yang kemudian dilepas ke udara. Makanya saya berkesimpulan Jangan berharap bisa bernafas jika tidak ada air,” pungkas Andika.

Akhirnya, bu Arin pun bisa menyelipkan pesan untuk menjaga kelestarian lingkungan termasuk pesan untuk menjaga ketersediaan air bersih di lingkungan.

Bu Arin berpindah posisi dari papan tulis menuju laptopnya yang sudah “ready” sedari tadi dan menghubungkannya ke proyektor. Bu Arin sudah menyiapkan satu “Ice Breaking” untuk memecah suasana yang mulai membeku.

Bu Arin, ini bukan cinta biasa.

Wallahu a’lam bishowab

#edisibahagiajadiguru#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 10 Oktober 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wowwww cerita yg selalu menarik krn dikemas dg kalimat afik dg dasar cinta. Oh gitu yag baru tau, kita tdk akan bernafas jk tdk ada air yah... Kereeeen deh, memang bua arin bukan cinta biasa. Sehst selalu utk kk. Sempatnya nulis ini kak. Barakallah

10 Oct
Balas

Harus disempatkan nulis...deqquuu. Apalagi yang bisa mengurangi sakit kalau tidak menulis. Menulis itu sesuatu banget. Menuliskan kisah bu Arin yang selalu sepenuh hati berhadapan dengan siswanya, juga membawa kepuasan tersendiri. Jazakumullah khoiron katsiro kunjungannya deqquuu. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

10 Oct

Air adalah sumber kehidupan...saya juga merasa mak jleeb bun...Betapa Allah sangat menyayangi makhluknya dengan memberinya air yang melimpah melalui hujan...Barakallah...

10 Oct
Balas

Iya, bunda. Semoga kita bisa menjaga dan melestarikan lingkungan yang di titipkan Allah bagi anak cucu kita kelak. Alhamdulillah, jazakumullah khoiron katsiro selalu mampir tempat bu Arin. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...,bunda.

10 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali