Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Bu Arin, Ini Bukan Cinta Biasa ( Bagian 27 : Generasi Ckrak Ckrek Butuh Pestisida )
Sunber : edmulatoria.id

Bu Arin, Ini Bukan Cinta Biasa ( Bagian 27 : Generasi Ckrak Ckrek Butuh Pestisida )

Bel tanda istirahat telah berbunyi, tetapi bu Arin masih berada di dalam kelas. Seorang siswa datang ke meja bu Arin, berkonsultasi tentang masalah perlombaan menulis cerpen dalam rangka hari guru.

Pada saat itulah, ekor mata bu Arin sempat menangkap tingkah laku anak didiknya. Ckrak…ckrek… ckrak…ckrek.., beberapa siswa terlihat sedang asyik memoto tulisan bu Arin di papan tulis ketika menjelaskan pelajaran tadi.

Materi pelajaran saat itu adalah Persilangan dengan Dua Sifat Beda. Pada materi ini diajarkan pada siswa agar dapat menghitung kemungkinan yang terjadi tiap kali terjadi persilangan dengan dua sifat beda.

Di papan tulis, memang terpampang jelas tulisan tangan bu Arin. Bu Arin menjelaskan beberapa cara lain yang dapat digunakan untuk mempermudah siswa dalam memahami dan memperoleh hasil persilangan tersebut.

Astaghfirullah, bu Arin baru ingat. Di kelas-kelas lain yang dimasukinya, juga menunjukkan hal sedemikian. Fenomena yang sudah mewabah. Para siswa sangat malas mencatat langsung di buku catatannya.

Mereka selalu saja mencari cara yang mudah dengan memoto tulisan gurunya di papan tulis. Duuuh, jadi selama belajar, apa saja kerja mereka ? Ditambah lagi, tidak sedikit anak yang catatannya pun tidak lengkap tiap kali bu Arin memeriksanya.

Mirisnya lagi, tulisan-tulisan di Papan tulis itupun hanya sekedar difoto saja. Banyak yang terciduk oleh bu Arin mereka tidak segera memindahkannya ke buku catatan. Ketika galeri di gawainya penuh, terhapuslah semuanya. Hhhh.

Hal semacam ini pastilah perlu segera mendapatkan solusi yang baik. Jika dibiarkan, nyawa literasi pasti akan tercabut dari kehidupan siswa. Level kemalasan siswa dalam membaca dan mencatat yang merupakan bagian dari literasi sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.

Kemudahan-kemudahan pada zaman now ini, ternyata dapat menyuburkan benih-benih kemalasan di dalam diri siswa. “Harus ada pestisida yang ampuh agar benih-benih itu tidak terus tumbuh dan berkembang,” demikian pemikiran bu Arin.

Bu Arin pun mencoba meramu formula pestisida tersebut. Formula ini dimaksudkan bu Arin untuk menghidupkan semangat literasi di dalam diri anak. Agar mereka senantiasa gemar membaca dan menulis dengan baik.

Bagi bu Arin, mencatat materi pelajaran dengan baik, ini merupakan salah satu indikator bahwa anak memiliki minat baca yang baik pula. Jika kedua hal ini sudah dapat ditumbuhkan dengan baik, maka “aktivitas literasi” lainnya dapat dijalankan dengan baik. Aktivitas literasi lain yang dimaksudkan yaitu kemampuan mereka berbicara, menghitung , serta memahami ide-ide yang disampaikan secara visual apakah dalam bentuk adegan, video ataupun gambar.

Berikut, formula yang coba disusun bu Arin :

Ø Guru harus senantiasa konsisten dalam memeriksa catatan siswa. Minimal setiap satu kompetensi dasar selesai, guru harus memeriksa catatan mereka. Jika dapat lebih banyak, akan lebih bagus. Hal ini harus disepakati sejak awal.

Ø Dalam pemeriksaan catatan ini, diberi reward dengan nilai yang termasuk pada nilai tugas yang harus dipenuhi.

Ø Menugaskan siswa mencari informasi pendukung yang berhubungan dengan materi pelajaran dari berbagai sumber. Dengan catatan, informasi yang diperoleh tidak dibenarkan dalam bentuk print out, tetapi harus tulis tangan.

Ø Mengajak siswa menghitung berapa kali nilai catatan yang harus mereka penuhi selama satu semester. Jika tidak terpenuhi, berarti nilai rata-rata yang mereka peroleh akan berkurang.

Sesungguhnya nilai yang diberikan oleh guru dalam bentuk angka-angka yang tergambar di dalam nilai raport ataupun ijazah takkan bermakna jika tidak terimplementasi dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki siswa. Namun, dalam proses mencapai tujuan tersebut, angka-angka ini tetap diperlukan sebagai acuan untuk mengetahui batasan-batasan yang telah dicapai siswa.

Bu Arin memperhatikan kembali formula “pestisida” yang telah disusunnya itu. Meski terkesan klasik dan membutuhkan energi ekstra dari sang guru. Namun bu Arin yakin, jika dijalankan dengan sepenuh hati, insyaallah semangat literasi akan tumbuh di dalam diri anak.

Bu Arin, Ini bukan cinta biasa.

Wallahu a’lam bishowab

#edisiguruharuskreatif#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 8 November 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Betul sekali kak, itu aku lakukan, hanya terkait point tiga yg belum tuh, sukses selalu dan barakallah

08 Nov
Balas

Alhamdulillah, jazakillah khoir deqquuu. Ah...itu kan hanya formula yang tidak baku dari bu Arin. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, deqquuu.

08 Nov

Wow ..formula yang mantaps Bunda...

08 Nov
Balas

Alhamdulillah, jazakillah khoir bunda Rini. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

08 Nov

Alhamdulillah dapat ilmu dapat sahabat, sesama guru. Bisa saya terapkan di sekolah kami. Semoga budaya literasi makin menyenangkan.. Makasih Bu GURU

08 Nov
Balas

Sami-sami bu guru. Alhamdulillah, jazakillah khoir. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bu guru.

08 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali