Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Bungaku Menghilang

Bungaku Menghilang

Matanya terlihat memerah. Kancing atas bajunya terbuka. Aku dapat melihat kalung emas yang melingkar di lehernya. Berkilau. Tersirat binar bangga pada siluet wajahnya. Namun bagiku suatu pemandangan yang mengerikan. Ntah karena Allah melarang laki-laki mengenakan benda perlambang kekayaan itu atau karena aku memang sudah eneg dengan sikapnya.

“Saya tetap dengan pendirian saya bahwa anak saya ini tidak usah sekolah lagi. Meski saya ini pemabuk, namun saya tahu mana yang baik dan yang buruk.” Ya Allah, kalau bukan karena aku guru anak dari laki-laki yang sekarang berada di hadapanku ini, aku tak kan berusaha sekuat ini. Rasanya ingin kutinggalkan dia di kantor itu sendiri.

Bagaimana mungkin aku meyakini bahwa dia mengerti mana yang baik dan yang buruk dengan pernyataannya itu. Seorang ayah yang pemabuk, masih bisa bilang bahwa dia mengerti baik buruknya hidup ini? Untuk berbuat baik pada dirinya sendiri pun dia tak mampu.

Kedatangannya menghadapku bukan baru kali ini. Bahkan, tidak hanya denganku. Berhadapan dengan guru BK pun sudah berulang kali. Ada masalah apa anaknya di sekolah? Anaknya tidak membuat masalah apapun di sekolah. Justru, ayahnya yang bermasalah. Koq…?

Siswaku itu bernama Bunga. Ayah dan Ibunya berpisah karena orang ketiga. Perempuan yang sekarang menjadi istri ayahnya, adalah sahabat Ibunya. Bagaikan di sinetron, tapi ini benar-benar terjadi. Nyata. Dan aku sebagai guru sekaligus wali kelas Bunga, ikut merasakan betapa remaja seusia Bunga harus terombang ambing kehidupannya karena keegoisan kedua orang tua.

Setelah berpisah dengan ayahnya, Ibu Bunga pindah ke kota lain. Katanya, melarikan kepedihan hati. Tetapi ia alpa, bahwa satu hatinya ia selamatkan namun ada dua hati yang terluka, bersimbah darah. Hati Bunga dan kakaknya. Sudah skenario Allah pula, jika ternyata kakak Bunga dulunya juga siswaku.

Baik Bunga ataupun kakaknya, termasuk siswa dengan prestasi di atas rata-rata. Keduanya anak yang sehat, lincah, dan sangat aktif dalam proses pembelajaran. Bunga duduk di kelas 8 dan Melati (kakak Bunga) di kelas 11 SMA pada yayasan perguruan yang sama.Tetapi, itu dulu ketika bencana belum melanda keluarga mereka.

Bunga dan Melati yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, sering minggat ke rumah nenek dari ibu mereka. Mereka memiliki orang tua tetapi bagaikan yatim piatu. Bahkan lebih menyakitkan dari itu. Mereka dihadapkan pada pilihan yang tak seharusnya dipilih. Ikut Ibu, tapi tak mampu menyekolahkan atau tetap bersekolah namun hidup bersama ayah dan ibu tiri yang bahkan pada dirinya sendiri pun dia tak bisa bersikap arif.

Hingga, suatu hari Bunga dan Melati benar-benar menghilang. Ketika beberapa hari Bunga tak hadir, salah seorang siswa kuminta mengantarkan SPO pada Melati ke SMA yang gedungnya bersebelahan dengan kami. Di situlah kutahu jika Melati juga tak ada.

Dari informasi yang kami kumpulkan, Bunga dan Melati pergi ke kota di mana Ibunya berada. Ya Allah, lindungi kedua siswaku itu.

“Saya sudah katakan pada Ibu, mereka itu anak tak tahu diuntung, ...” berbagai jenis kata yang tak pantas keluar dari mulut lelaki itu menghujat anaknya sendiri. “Menurut saya, biarlah kita tunggu mereka pulang. Namanya juga anak-anak. Saya yakin mereka hanya emosi sesaat.” Aku berusaha mempertahankan Bunga sebagai siswa di sekolah kami ketika ayahnya berulang kali bersikeras untuk mengeluarkan Bunga dari sekolah dengan surat pernyataan yang akan ditanda tanganinya.

Masalah Bunga ini, membuka mataku bahwa pecahnya hubungan orang tua hanya menyisakan kepingan-kepingan hancurnya hati anak-anak yang katanya buah cinta mereka. Kenapa mereka lupa akan hal itu?

Kerasnya hati ayah Bunga, tak mampu kami luluhkan. Aku, guru BK dan Kepala Sekolah akhirnya harus merelakan Bunga tak kan lagi muncul di sekolah kami. Kulihat, ayahnya menandatangani surat pernyataan bahwa Bunga tidak lagi bersekolah di sekolah ini atas permohonan orang tuanya sendiri. Tabungan Bunga telah ditariknya pula berikut semua berkas kelengkapan adiministrasi.

Tak ada kata-kata yang mampu meluluhkan hati yang mati. Nafsu amarah telah mampu tutupi sucinya nurani. Itulah pertanda bahwa diri jauh dari ajaran ilahi.

Tidak semua romantika kisah kasus di sekolah dapat kita tutup dengan akhir cerita yang manis. Terkadang berujung tragis dan miris. Namun demikian sebagai guru tak boleh apatis. Ada saat dimana Allah tunjukkan ibrah agar orang tua tak boleh egois.

Doaku, dimanapun Bunga dan Melati berada Allah akan selalu melindungi mereka. Kuharap, mereka akan kembali bersekolah sebagaimana harusnya anak-anak seusia mereka.

Wallahu a’lam bishowab.

#romantikakisahkasusdisekolah#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 6 Pebruari 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah bakal tulisan buku bunda Rai memantik pengalaman mengajar saya sejak 2001, saat TK, SD, SMP, dan SMA. Saya mengajar di Jakarta banyak kisah-kisah tragis. Insyaallah suatu ketika akan menulis. Terus menginspirasi. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah buat bunda Rai.

06 Feb
Balas

Waah...., bisa dong Pak dikumpulkan jadi satu buku. Ayo... kita tulis. Semangat...semangat. Semoga yang kita tulis bisa menginspirasi. Jazakallah khoir untuk kunjungan dan apresiasinya. Salam sehata dan sukses selalu. Barakallah, Pak Guru.

06 Feb

Tragis dan miris tapi kenyataan memang harus seperti itu. Semoga Bunga dan Melati bisa bersekolah kembali dan tetap menjadi anak hebat. Barakallah Bunda

06 Feb
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Semoga seperti yang kita harapka, Bunga dan Melati bisa bersekolah kembali dan tetap menjadi anak hebat. Jasakillah khoir untuk kunjungannya, Bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Feb

Jadi ikut baper Kak, miris dan tragis, bila orang tua tak lagi mendukung, mau bilang apa lagi. Lebih baper lagi Kakak ungkapkan dengan untaian kalimat yang dapat mengaduk aduk rasa siapapun yang membacanya. Kakak nih paling pandai soal itu. Semoga tak ada lagi bunga-bunga lainnya, yang harus dipetik sebelum waktunya. Teruntai doa untuk kakakku tercinta smoga Allah limpahkan rahmatNya agar kakak diberikan kesehatan dan barakallah

06 Feb
Balas

Mungkin, karena ini memang kita alami sehingga kita betul-betul masuk di dalamnya. Menuliskannya pun tidak sulit, Deq. Hiks...hiks...hiks, jadi baper nya keluar. Salam sehat dan sukses selalu. BarakallĂ h.

06 Feb

Ya Allah Semoga Bunga dan Melati bisa menemukan jalan yang seharusnya mereka lewati..Jadi ikutan sedih nih...hiks..hiks...Ditunggu bukunya Bunda..Jangan lupa udah order dulu..Barakallah.

06 Feb
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Begitu harapan kita. Tak catet lah, Bunda sudah PO. Jazakillah khoir, Bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Feb

Orang tua berpisah selalu buah hati yang menanggungnya.Termasuk masa depannya, yang kadang membingungkan mereka ketika melangkah. Semoga Bunga dan kakaknya sekolah kembali.

06 Feb
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakillah khoir untuk kunjungannya , Bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Feb

Sajak manusia, tinggal di dalam syurga sampai ke bumi, antara baik dan buruk saling mempengaruhi. Semoga kita mampu memenejnya dengan baik. Baeakillah Mbah Uthi

06 Feb
Balas

Insyaallah, Aamiin ya robbal alaammiin. Jazakallah khoir, Mbah Buya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah,

06 Feb

Semoga Bunga dan Melati baik-baik saja, menjadi anak yang kuay atas semua cobaan yang dihadapinya..

10 Feb
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakillah khoir untuk doa dan dukungan bagi Bunga dan Melati. Salam sehat, bahagia dan sukses selalj. Barakallah, Bu Guru.

10 Feb

terharu, setiap katanya sangat menyentuh hati seakan memahami rasanya kepingan hati itu hancur... Semoga siswi ibu menjadi anak yang sukses...

07 Feb
Balas

Jazakillah khoir, Ayesha sayang. Semoga semua doa untuk mereka diijabah Allah. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

07 Feb

Bismillahirrahmanirrahim... semangat bunda...biarkan Bunga merenung sejenak...ia butuh waktu untuk memahami bahwa yang dihadapi nya adalah ujian. Dan Bunga harus mampu melewati ujian ini dengan tetap menjadi siswa berprestasi dan shalehah... Bunda luar biasa.. sukses selalu bunda dan barakallah

06 Feb
Balas

Bismillah. Sayanpun berharap demikian. Saya selalu berharap dimana pun Bunga dan Melati ada, hendaknya senantiasa dalam ridho Allah semata.

06 Feb

Bunga dan Melati, korban yang tak seharusnya tragis meninggalkan bangku sekolah. Kisah yg membuka cakrawala orang tua untuk memberikan kasih sayang dan tanggung jawab kepada anak-anak yg dilahirkan atas nama cinta... Salam takzim Bu Hana.

06 Feb
Balas

Tragis memang! Anak yang terlahir atas nama cinta namun menjadi korban cinta itu sendiri. Jazakallah khoir untuk kunjungan dan apresiasinya, Pak Guru. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Feb

Nyentuh hati Bunda...

06 Feb
Balas

Jazakillah khoir, Bu Guru syantiiqqq. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali