Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
DaRa Fathia (4)

DaRa Fathia (4)

Setelah pembagian kelompok kerja anak-anak mulai sibuk menyiapkan bahan dan peralatan yang dibutuhkan. Hari itu siswa-siswa kelas VIII-1 akan membuat alat peraga untuk mengamati mekanisme pernafsan pada manusia. Seperti biasa setelah menjelaskan apa yang harus mereka lakukan, akupun berkeliling melihat kinerja mereka. Pembelajaran seperti ini memang sangat diminati. Anak-anak berusaha menuangkan kreatifitasnya agar bisa memperoleh hasil karya yang baik. Keterampilan motorik mereka pun akan dapat dengan mudah kita amati dan dinilai.

Melihat semangat mereka mengerjakan tugasnya, semangatku pun semakin membara pula untuk mentransfer pengetahuan yang kumiliki pada mereka. Masing-masing anak terlihat sibuk sendiri-sendiri. Rupanya mereka sudah berbagi tugas sehingga tidak ada yang tidak bekerja. Langkahku sampai pada kelompok nya DaRa, kulihat anak itu asyik menggunting selang yang akan dijadikan model trakea (tenggorokan) pada rangkaian alat yang akan mereka buat. Oh…iya…,aku ingat DaRa kan kemarin mohon izin untuk menghadiri pesta pernikahan kakak sepupunya di kampung, aku ingin tahu cerita DaRa. Biasanya gadis kecil ini memang senang berbagi cerita. Aku pun selalu mengajaknya bercerita untuk mengurangi kesedihannya sejak Abi dan Uminya tidak bersama lagi.

Hari ini kulihat DaRa benar-benar asyik mengerjakan tugasnya bahkan terlalu asyik menurutku karena DaRa terlihat tidak menghiraukan teman-temannya bahkan kehadiranku di situpun tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari benda yang dipegangnya. Karenanya aku tahu kalau DaRa bukan asyik dengan pekerjaannya tetapi ada sesuatu didalam fikirannya. Aku faham betul gadis kecil ini. “DaRa….”, tegurku sambil memegang pundaknya lembut. Benar saja dugaanku karena DaRa agak terkejut dengan teguranku. Eits…,ternyata matanya sedang berkaca-kaca. Aku memberi kode pada DaRa agar jangan menangis dan akupun melangkah ke kelompok yang lain.

Setelah berkeliling melihat kinerja anak-anak aku pun duduk di kursiku sambil seolah-olah memeriksa daftar hadir, aku panggil DaRa untuk maju ke depan. “DaRa…,nanti pulang sama Ibu…ya…?”, ucapku setelah DaRa berada tepat di depanku. Meski masih bingung DaRa menganggukkan kepalanya tanda setuju dan kembali bergabung dengan teman-temannya untuk melanjutkan rangkaian alat model pernafasan yang menjadi tugas pada hari itu.

Memasuki menit ke 70 rangkaian model alat pernafasan itu pun selesai. Masing-masing kelompok menunjukkan hasil karyanya dan menjelaskan cara kerja alat tersebut. Setelah selesai masing-masing kelompok mempresentasikan alat hasil rancangannya, kami pun bersama-sama membuat kesimpulan mengenai “Mekanisme Alat Pernafasan”.

DaRa sudah menungguku di depan pintu kantor guru. Aku segera menyandang tas ranselku dan mengajak DaRa ke parkiran sekolah. “Kenapa Ibu mau pulang bersama DaRa ?’, itu pertanyaan yang meluncur dari bibir manis siswaku ini. “Oh…,Ibu pingin dengar cerita DaRa waktu pesta kemarin di kampung..,bolehkan DaRa ?’, jawabku sambil membantunya mengenakan sefti belt. Aku memang selalu ingin menjaga hati gadis kecil ini sejak kuketahui cerita hidupnya. Bagaimana tidak , gadis kecil berpenampilan menarik, bertutur sapa santun, memiliki prestasi pula, aku tidak ingin dia tidak bahagia yang bisa mengganggu prestasi belajarnya. Aku ingin DaRa tetap menjadi bintang di kelasnya meskipun awan kelabu mengelilingi cerita hidupnya.

Mobil mulai berjalan perlahan meninggalkan parkiran sekolah. Aku melirik ke gadis kecil di sampingku, ternyata DaRa menangis. Tangan kiriku beranjak mengusap lembut kepalanya, aku masih belum bertanya apapun karena masih memberi kesempatan padanya untuk menumpahkan tangisnya. DaRa meraih tangan kiriku dari atas kepalanya dan mendekap erat tanganku. Aku baru tahu kalau mengemudi mobil dengan satu tangan lumayan sulit. Ketika kulihat DaRa mulai tenang, “DaRa kenapa…?”,tanyaku kemudian. “Ibu….,DaRa benci sama Umi…”, DaRa mulai mengeluarkan isi hatinya. “Sst…sst.., DaRa tidak boleh begitu…”,cepat aku menenangkannya. “Sewaktu di kampung kemarin, bukannya kebahagiaan yang DaRa dapat Bu, tapi DaRa jadi tahu kalau Umi sebenarnya sudah merebut Abi dari istri pertama Abi. DaRa…..”, dengan cepat aku meletakkan telunjukku ke bibir DaRa sebelum DaRa melanjutkan kata-katanya dan aku menghentikan mobil di tepi jalan yang pada saat itu memang sepi. “DaRa…., Ibu sudah faham cerita DaRa. DaRa harus percaya sama Ibu bahwa Uminya DaRa pastilah orang baik. DaRa tidak boleh membencinya demikian juga pada Abi”, aku berhenti sejenak untuk menarik nafas dan meneruskan kembali kata-kataku. “Nanti kalau DaRa sudah dewasa DaRa akan mengerti semua ini. Nanti DaRa cerita sama Mbah ya…sayang. Ibu yakin Mbah pasti bisa menjelaskan semua ini….”, tambahku sambil tersenyum semanis mungkin. Mobilku kembali melaju dan berhenti di sebuah rumah sederhana yang aku merasa ada ketenangan ketika memandangnya. “DaRa…,Ibu tidak singgah ya, titip salam saja buat Mbah. Jangan lupa DaRa selalu mengaji sehabis sholat maghrib ya sayang….”, pesanku pada DaRa. DaRa…oh…DaRa…

Bilikku, Semoga bahagia. 12 Februari 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

DaRa pasti bisa menjadi bintang karena didampingi oleh guru yang hebat Oya Bu saya bisa minta nomer Wanya atau saya kasih nomer WA saya ya 089692593804 Terima kasih

12 Feb
Balas

Alhamdulillah...,terimakasih...,Bunda selalu hadir. Iya..Bunda dengan senang hati. Baarokallah...Bund....

13 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali