Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
DaRa Fathia (5)

DaRa Fathia (5)

Hati siapa yang tidak akan sedih jika harus berpisah dengan orang yang disayangi. Hati siapa yang tidak akan terluka jika dikecewakan oleh orang yang disayangi . Demikian yang kulihat pada DaRa Fathia siswa berprestasi di sekolahku ini. Rupanya DaRa belum bisa menghilangkan kesedihan dan luka hatinya. DaRa…, jangan seperti itu, Ibu menghawatirkan dirimu.

DaRa Fathia siswaku itu, memberikan secarik kertas kepadaku. Sambil memandangnya penuh kasih dan tentu juga tanda tanya dalam benakku. Apa hal dengan secarik kertas yang kini sudah berpindah ke tanganku? DaRa hanya menatapku dengan diamnya. Kubuka perlahan kertas itu, terlihat tulisan apik yang tersusun rapi dan aku yakin itu ditulis dengan penuh rasa. Oh….ternyata kertas itu berisikan tulisan Uminya DaRa yang ditujukan pada anaknya DaRa Fathia si bintang kelas.

Teruntuk : DaRa Fathia

DaRa Fathia , buah hati Umi

DaRa Fathia , buah cinta Umi

DaRa Fathia , belahan jiwa Umi

DaRa……,lihatlah betapa rapi dan apiknya tulisan Umi

Tapi….,tahukah DaRa…betapa Umi harus sibuk merapikan hati Umi terlebih dahulu untuk bisa menuliskan semua ini dengan rapi.

DaRa…., Umi tahu DaRa kecewa

Umi tahu DaRa marah dan mungkin pula DaRa menjadi hilang kepercayaan pada Umi

Itu pula yang membuat Umi memilih untuk menuliskan semua ini buat DaRa, agar DaRa membacanya dengan tenang.

DaRa…., untuk saat ini yang bisa Umi katakan pada DaRa adalah bahwa betapa Umi menyayangi DaRa. Apapun yang kita jalani saat ini, tidak sedikitpun mengurangi rasa cinta dan sayang Umi kepada DaRa.

Tetaplah menjadi bintang di langit seperti harapan Umi dan Abi. Do’a Umi tak pernah berhenti untuk DaRa, terus menerus tercurah tanpa batas. Hal yang sama juga Umi harapkan dari DaRa untuk Umi. Karena do’a kita tidak terhijab.

Umi sayang DaRa…., kemarin… , hari ini…. , esok… dan selamanya.

Uminya DaRa

Aku melipat kertas itu setelah membaca isinya. Aku merasakan ada titik bening yang akan keluar dari mataku. Tapi sekuat tenaga kutahankan untuk tidak mengalir. Karena aku sadar sedang berada di depan gadis kecil yang aku tidak ingin dia juga terhanyut dengan perasaan ini. Dan aku sudah punya tekat untuk membuat gadis kecil ini tetap kuat menjalani cerita hidupnya. Aku menoleh pada DaRa, kulihat tangannya sedang memegang kaos putih yang selalu ada didalam tasnya. Si Mbah bilang padaku , kaos itu adalah kaos Abinya DaRa yang selalu ada bersamanya kemanapun DaRa pergi. DaRa…oh…DaRa…

Bilikku, di ujung malam, 13 Februari 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Gadis kecil itu belum paham pahitnya hidup ya Bun

14 Feb
Balas

Iya...Bunda. Terimakasih ...,Alhamdulillah. Baarokallah...

14 Feb

Kisah si kecil yang mengesankan

14 Feb
Balas

Alhamdulillah....,terimakasih Pak sudah mampir. Baarokallah....Pak.

14 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali