Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
DEMAM  DILAN  MASIH  TINGGI

DEMAM DILAN MASIH TINGGI

Satu setengah purnama sudah berlalu sejak 25 Desember 2017, gejala demam “Dilan 1990” masih tinggi. Aku masih selalu mendengar percakapan diantara siswa yang meniru dialog antara Dilan dan Milea. Bisa-bisanya dalam model pembelajaran kooperatif yang baru saja kuterapkan di X IPA 3, salah seorang dari siswa karena kesal dengan teman-teman satu kelompok dengannya yang tidak mau aktif dan peduli, dia ngomong ke teman lainnya:”Kamu tidak usah satu kelompok dengan mereka, berat!, kau tidak akan kuat , biar aku saja”, spontan saja seisi kelas jadi penuh dengan tawa. Sementara itu ketika aku masuk di kelas X IPA 2 , siswa sudah mulai merangkai kata-kata “mutiara” untuk melindungi diri. “Davi…, Ibu perhatikan PR mu tidak pernah selesai. Kamu selalu terburu-buru mengerjakan PR mu di sekolah. Kenapa begitu Davi..?”,tanyaku pada Davi salah seorang siswa di kelas X IPA 2. Dengan tenang Davi menjawab,:”Iya…Bu, saya kerjakan di sekolah karena sekolah sudah saya anggap sebagai rumah saya sendiri”. Hampir meledak seisi kelas tetapi terhenti demi melihat ekspresi di wajahku. Namun cepat aku sadar kemudian jika anak seperti Davi yang “kreatif” memainkan kata-kata harus diimbangi pula kekreatifannya. “Oh…begitu ya Davi, ya sudah nanti sepulang sekolah Ibu beri tugas kamu untuk dikerjakan di sekolah ini ,sementara teman-temanmu biarlah pulang ke rumahnya masing-masing. Nanti biar Ibu temani mengerjakannya di kantor guru ya…” , ucapku setenang mungkin pada David dan seisi kelas menjadi senyap karena mengerti ucapanku tadi adalah sebagai hukuman buat Davi meskipun terdengar tenang . Memainkan kata-kata seperti itu menjadi hal yang biasa pula bagi mereka. Karena merasa anak zaman now jadi harus “ up date” , mengikuti hal-hal yang sedang “booming”.

Hampir di setiap kelas pula aku bisa mendengar ada pasangan Dilan dan Milea didalamnya yang mereka nobatkan karena mereka sudah “jadian” istilah mereka. Terus terang aku khawatir dengan keadaan ini. Kekhawatiran yang wajar sebagai guru sekaligus orang tua. “Pacaran” dianggap sesuatu yang wajar dan biasa terjadi diantara mereka. Pergaulan di kalangan generasi Milenia ini pun memperihatinkan. Pembiaran dan pembiasaan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan sangat terasa sudah terjadi di masyarakat. Ditambah pula perkembangan di sosial media yang bagaikan jamur di musim hujan sangat menyuburkan pertumbuhan situasi ini. Ditakutkan generasi ini akan terjebak dengan sikap dan perilaku “maksiat” yang akan menghancurkan masa depannya. Karena ternyata sekarang ini semakin banyak terjadi pernikahan di usia sekolah karena terlanjur melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.

Lihatlah film-film dan sinetron remaja kita yang dengan gamblang menampilkan kemesraan, kekerasan karena harus memperebutkan “pacar”, kecengengan karena putus dari pacar, bahkan di televisi yang dapat dikonsumsi dengan mudah oleh semua kalangan. Sudah saatnya kita peduli dan tidak melakukan pembiaran dan pembisaan untuk hal ini. Adalah menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai orang tua , guru dan masyarakat demi terwujudnya generasi penerus sesuai dengan harapan. Wallahu a’lam bishshowab.

Rumahku, Generasiku penerus bangsaku, 11 Februari 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Saya hanya baca cover Dilan saat nonton AAC 2. Oh, ternyata begitu ya. Terima kasih Bu Raihana.

11 Feb
Balas

Alhamdulillah...,terimakasih udah mampir Bunda Ismi. Baarokallah...Bund.

11 Feb

Aku takkan rindu Dilan.... Berat!... Ttp semangat bu.. Salam literasi

11 Feb
Balas

Hehehe...,terimakasih...Bunda. Semangat...semangat. Baarokallah...,Salam Literasi kembali.

11 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali