Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Ini Soal Rasa
Timsol Pelita dari kiri ke kanan: Bunda Mimi Nurbaya (Sekretaris Timsol Pelita IPPSU), penulis dan Ketua Umum IPPSU Bunda Wiwik Puspitasari (kemeja kota-kotak), serta Bunda Mariatul Qiftiyah (Timsol Pelita dari Langkat).

Ini Soal Rasa

Pernah merasakan sayur yang kurang garam? Cemplang! Hambar! Dibilang tak enak, tidak juga. Mau dikatakan enak, tidak pas pula. Seketika itu, saraf pengecap pada papila lidah pun menggeliat. Mencari-cari rasa yang kurang bahkan hilang.

Halnya dengan sebuah tulisan pun, demikian pula. Terkadang sebuah tulisan bisa terasa garing dan hambar. Wadduuuuhh. Terasa bagaikan sayur yang kurang garam, bagaikan malam tak berbintang. Hehehe.

“Apa penyebabnya?” tanya pun bergulir. “Ini soal rasa,” demikian salah seorang anggota Timsol Pelita IPPSU menjawab. Saat itu Timsol Pelita sedang berkumpul di Museum Perkebunan Indonesia untuk berbincang literasi. (Oh...ya, mungkin perlu juga dikenalkan apa itu Timsol Pelita di IPPSU. Timsol Pelita= Tim Solid Pengembang Literasi, IPPSU=Ikatan Pendidik Penulis Sumatra Utara)

Sebuah tulisan yang maknyuss (baca=baik dan benar), pastinya harus mengikuti kaidah-kaidah penulisan yang baik dan benar.

Enre (1988:8) mengatakan bahwa ciri-ciri tulisan yang baik ada enam hal, yaitu:

(1) tulisan tersebut harus selalu bermakna;

(2) tulisan yang baik adalah tulisan yang jelas;

(3) tulisan yang baik selalu ekonomis;

(4) tulisan yang baik selalu padu dan utuh;

(5) tulisan yang baik adalah tulisan yang selalu mengikuti kaidah gramatikal, dan

(6) tulisan yang baik selalu ada penyelesaian akhir.

Dari beberapa referensi yang penulis kumpulkan, sebuah tulisan yang baik juga harus menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh pembaca. Apalagi jika tulisan yang bersifat umum dan pembacanya dari seluruh kalangan. Artinya tulisan tersebut harus komunikatif.

Yang paling menarik dari semua referensi yang penulis dapatkan adalah hadirkan rasa di dalam tulisan. Dalam hal ini, menulis harus dengan ketulusan hati. Menulis dengan tulus membuat tulisan mengalir apa adanya. Sehingga pembaca benar-benar merasa menyatu dengan tulisan kita. Hingga,tanpa disadari, pembaca telah sampai di ujung cerita.

Yuk, kita hadirkan rasa itu. Sepenuh hati, segenap jiwa. Karena, ini soal rasa.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisikuatkanhati#

Rumahku, Menggapai Merdhatillah, 11 Juli 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Rasku padamu...hehehe Semoga bisa mengikuti jejak Uthi yang tulisannya selalu penuh rasa. Sehat, bahagia dan sukses selalu Uthi. Barakallah

11 Jul
Balas

Rasaku padamu juga begitu...hihihi. Bu Penilik syantiiiqqq ini, pake ilmu padi. Uthi hanya penulis diary aja koq. Jazakillah khoir untuk kunjungannya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah.

11 Jul

Aku mau dong tulisan pake rasa. Makanya harus terus baca tulisan Kakak yang punya rasa. Semoga ketularan rasanya, hehehe. Teruntai doa untuk Kakakku tercinta agar tercurah rahmat Allah terlimpah untuk kesehatan Kakak dan barakallahu fiik

11 Jul
Balas

Hehehe..., rasa apa Deq? Rasa kari ayam...hihihi. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doa yang terus mengalir. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Deqquuu.

11 Jul

Abah masih merasakan, tulisannya masih kering belum kaya akan rasa. Tapi Abah tetap optimis pada satu saat tulisannya bisa seperti Mbah Uthi. Barakallah Mbah Uthi selalu sehat

11 Jul
Balas

Semoga dengan banyak membaca tulisan orang lain, kepekaan rasa pun menjadi terasah. Jazakallah khoir untuk kunjungannya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Mbah Buya.

11 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali