Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Inilah Cerita Hati ADIRAI Episode 19 : Bahagiakan Dirimu dengan Cara Berbagi oleh Shandy Aulia
Shandy Aulia, siswa kelas IX-1 SMP Budisatrya Medan.

Inilah Cerita Hati ADIRAI Episode 19 : Bahagiakan Dirimu dengan Cara Berbagi oleh Shandy Aulia

Dalam kurun waktu 4 bulan terakhir sejak kecelakaan yang kualami, kegiatan literasi ADIRAI seakan terhenti. Nampaknya, tanpa hadirnya diriku di sekolah bersama-sama dengan mereka, benih-benih literasi yang sudah mulai bersemi layu kembali.

Postingan terakhir ADIRAI di gurusiana, pada tanggal 9 Agustus 2018 dengan tulisan berjudul Aku Belajar dari Mereka karya Nova Amelia siswa kelas IX-1 SMP Budisatrya Medan.

Karena rentang waktu yang lama, ada baiknya kuulang sedikit apa dan siapa ADIRAI ini sesungguhnya. ADIRAI merupakan singkatan dari Anak Didik Bu Rai. Terdiri dari seluruh anak-anak SMP Budisatrya yang ingin hidupkan gerakan literasi di sekolah walaupun tipis-tipis.

Kemauan mereka menulis, kucoba menampungnya dengan harapan dapat menghidupkan geliat literasi di sekolah kami. Tentunya, tulisan mereka pun masih jauh dari sempurna. Tetapi tekat mereka untuk memulai belajar, itu jauh lebih baik ketimbang diam di tempat menunggu datangnya kesempurnaan.

Inilah cerita hati ADIRAI episode 19, ditulis oleh Shandy Aulia siswa kelas IX-1 SMP Budisatrya Medan. Terasa sangat istimewa, karena gadis manis ini telah berhasil merebut kursi rangking pertama dari temannya ketika naik ke kelas VIII dan terus bertahan hingga di kelas IX ini.

Bahagiakan Dirimu dengan Cara Berbagi

Alsya seorang gadis berumur 15 tahun. Alsya sangat beruntung memiliki orang tua yang sangat kaya raya. Dengan kekayaannya itu, pantas jika orang tua Alsya menyekolahkannya di sekolah elit dan terfavorit di kota tempat tinggal mereka.

Alsya yang anak tunggal,memperoleh semua kasih sayang dari kedua orang tuanya secara berlimpah. Tidak satu pun kebutuhan Alsya yang tidak terpenuhi. Tak pernah sekalipun Alsya menemukan kesulitan untuk memenuhi keinginannya. Dikarenakan orang tuanya begitu menyayangi Alsya.

Namun rasa sayang yang berlebihan dan kemudahan -kemudahan yang didapatkannya, membuat Alsya menjadi anak yang manja dan sering menghambur-hamburkan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu.

Tak pernah terlintas di dalam pikiran Alsya akan adanya kesulitan hidup. Tidak juga ia berpikir bagaimana jika suatu saat harta orang tuanya itu habis atau bagaimana jika nanti mereka tiada.

Keadaan Alsya ini, membuat ayah dan ibunya menjadi risau. Mereka berpikir, harus bisa menghentikan kebiasaan buruk Alsya. Kedua orang tuanya mulai menyadari jika keadaan ini terus berlanjut, pastilah Alsya tidak akan dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Apalagi jika kedua orang tuanya telah benar-benar tiada.

Hingga suatu hari kedua orang tuanya menyusun rencana untuk memberikan pelajaran bagi Alsya agar kelak anaknya tersebut dapat menjalani hidup ini dengan baik.

“Alsya, kemarilah sebentar. Papa dan mama ingin berbicara denganmu,” ujar papa ketika mereka baru saja selesai makan malam. “Iya, pa sebentar,” sahut Alsya sambil berjalan menghampiri papa dan mamanya.

“Ada apa, pa?” tanya Alsya setelah duduk di hadapan kedua orang tuanya. "Ini papa berikan kamu uang 50 juta, kamu harus habiskan uang ini dalam 1 hari. Tetapi kamu tidak boleh menghabiskan uang ini untuk membeli barang apapun. Jika uang ini tidak habis, kamu tidak boleh pulang ke rumah ini,"ujar papa menjelaskan keinginannya.

"Loh, jadi bagaimana aku bisa menghabiskan uang sebanyak itu, pa?"

Papanya hanya diam membisu. Alsya menjadi bingung, dan ia pergi menemui teman-temannya untuk bertanya Tetapi temannya tidak ada yg bisa memberikan solusi baginya.

Alsya singgah di masjid untuk shalat dan menenangkan dirinya. Selesai shalat, ia duduk termenung sambil berpikir apa yang harus dilakukan.Tiba-tiba datang seorang kakek.

"Assalamualaikum,kenapa kamu termenung? Apa yang kamu pikirkan? Jika kamu mau, kamu boleh bercerita pada kakek.”

Bagaikan menemukan tempat mengadu, Alsya pun akhirnya menceritakan apa yang menjadi perintah papanya. "Begini kek, papa saya memberikan uang yang banyak kepada say. Beliau menyuruh saya untuk menghabiskan uang itu, tetapi uang itu tidak boleh dihabiskan untuk membeli barang. Jika uang itu tidak habis,maka saya tidak boleh pulang kerumah. Saya sudah bertanya kepada teman-teman saya, tapi mereka tidak ada yang tahu."

"Nak, kakek mengerti maksud papamu. Pergilah ke tempat orang-orang yang membutuhkan, dan habiskan uangmu itu di sana."

Alsya pun berterima kasih kepada kakek itu dan segera pamit pergi.

Alsya pergi menuju panti asuhan, dan orang-orang fakir miskin. Dia menghabiskan uangnya itu untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Mereka merasa sangat senang begitupun dengan Alsya.

Setelah semuanya selesai, Alsya segera kembali ke rumahnya. Dia menjumpai Papanya.

"Uang yang Papa berikan sudah habis?” Papa langsung menyerbu Alsya dengan pertanyaan. "Sudah pa. Aku memberikan uang itu kepada orang-orang yg membutuhkannya. Di sana aku berbagi kebahagiaan dengan mereka, dan itu membuatku sangat senang." Alsya menceritakan apa yang dilakukannya dengan uang pemberian papanya itu.

"Bagus, itulah tujuan papa sebenarnya. Papa ingin kamu menghabiskan uang itu untuk hal yang berguna seperti berbagi kepada sesama. Bukan menghamburkannya begitu saja. Agar dirimu mengerti bahwa sangat banyak orang hidup dalam kekurangan dan penderitaan. Alhamdulillah, anak papa sudah bisa mengerti akan hal ini. Ya, sudahlah istirahat, kamu tentunya lelah."

Alsya mencium takzim punggung tangan papa dan mamanya dan berpamitan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Ada rasa bahagia di dalam dadanya. Rasa bahagia yang berbeda dari sebelumnya. Rasa bahagia karena dapat berbagi dan membahagiakan orang lain.

Wallahu a’lam bi showab.

Kita nantikan cerita hati ADIRAI epidode selanjutnya.

#edisigls#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 25 Desember 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah bu, semoga segera tercapai target tulisannya walaupun ibu sempat kena musibah. Terima kasih sudah menginspirasi. Sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah.

26 Dec
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Betul, pak guru. Saya sedang memotivasi anak-anak untuk buat antologi. Sulit memang karena tak ada sua. Saya belum bisa masuk mengajar di Budisatrya karena posisi lokal di lantai 2 dan 3. Sementara ini, kaki saya belum bisa digunakan untuk naik tangga. Sehingga, hanya memotivasi dari jauh saja. Jazakallah khoir untuk kunjungan dan doa pak guru. Barakallah.

26 Dec

Subhanallah, keren kak, cerita yang menggugah rasa untuk dapat menghentikan kebiasaan buruk seorang anak manja. Pasti Kak Rai rindu yah dengan Adirai, yang sudah emoat bulan tidak bersua. Teruntai doa untuk kakakku tercinta smoga Allah limpahkan rahmatNya agar kakak diberikan kesehatan dan barakallah

25 Dec
Balas

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Kerinduan yang memenuhi rongga dada. Rindu bersama-sama ADIRAI, berbagi cerita dan ceria. Menguatkan mereka di kala lemah. Sehingga geliat literasi ini akan terus ada meskipun tipis-tipid. Jazakillah khoir untuk apresiasi dan doanya. Salam sehat dsn sukses selalu. Barakallah, deq.

25 Dec

Wah ADIRAI memang luar biasa. Pesan moral dibalut dalam cerita sederhana nan cantik. Sukses terus bunda Rai bersama anak asuhnya, semoga selalu sehat dan selalu menginspirasi. Barakallah.

26 Dec
Balas

Alhamdulillah, ADIRAI masih mulai belajar, Bunda Rita. Meski tertatih-tatih, bismillah. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan apresiasinya bagi ADIRAI. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bunda Rita.

26 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali