Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Inilah Cerita Hati ADIRAI Episode 22 : Pangeran Es oleh Ditha Auliya Saragih
Ditha Auliya Saragih, siswa kelas IX-1 SMP Budisatrya Medan.

Inilah Cerita Hati ADIRAI Episode 22 : Pangeran Es oleh Ditha Auliya Saragih

(Satu lagi tugas guru yaitu menjadi sahabat bagi siswa-siswanya. Menemani mereka saat terserang “virus merah jambu”, begitu aku menyebutnya ketika menemukan mereka bertabur gambar hati di saat menyebutkan nama seseorang. Rasa yang bersamaan tumbuh dengan berjalannya usia mereka. Beberapa diantara mereka kutemukan mulai dilanda rasa itu. Lantas, bagaimana menjadi sahabatnya agar rasa itu menjadi pemantik motivasi mereka dalam meraih prestasi ? )

Inilah cerita hati ADIRAI episode 22 : Pangeran Es oleh Ditha Auliya Saragih.

Setiap orang pasti punya cara tersendiri ketika jatuh cinta bukan? Ya, dan aku memilih untuk diam. Melihatnya dari kejauhan saja dan mendoakannya diam diam.

Aku Ditha, remaja yang kini telah duduk di bangku kelas 9. Dan dia yang aku kagumi, sebut saja namanya Milano. Cowok dingin, misterius, menyebalkan, cuek, tinggi dan juga tampan. Semakin sempurna saja rasanya penampilannya itu ditambah dengan prestasi belajarnya yang tak pernah keluar dari lima besar di kelas. Dari ciri-ciri yang kusebutkan, pasti kalian sudah bisa membayangkan bagaimana sosoknya bukan?

Waktu itu, tepat waktu aku dan dia masih kelas 7. Dulu kami sekelompok, tentu kami dekat. Dia yang selalu membuatku tertawa, kadang juga ngeselin sih, tapi tak apa, aku suka. Nah, sejak itu, gak tau deh, entah kenapa tiap kali aku melihat senyumnya, seperti ada yang aneh.

Lambat laun, aku menjadi suka dengannya. Tentu perasaan itu aku pendam dalam diam. Tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Mungkin bukan hanya aku saja yang suka padanya. Kakak kelas, adik kelas, bahkan kelas tetangga juga pasti suka padanya. Bagaimana tidak? Ia begitu sempurna untuk type seorang cowok idaman.

Waktu pun terus berjalan, tanpa terasa kami sudah kelas 8. Kupikir, perasaan itu akan menghilang. Tapi tidak, perasaan itu berubah menjadi kagum. Bukan kagum karena parasnya, tetapi karena akhlaknya. Dia tumbuh menjadi cowok cuek dan super dingin. Sehingga aku menyebutnya Pangeran Es.

Sekarang, semua sudah tak sama. Tak ada lagi canda tawa mu.Tiada lagi senyum yang indah, dari wajah mu yang dulu ceria.

Sekarang sudah berbeda. Kau tak lagi membuat tawa. Yang ada hanyalah kecewa. Sungguh aku tak suka. Tidak hanya seisi kelas mempertanyakan kedinginanmu. Kebekuanmu menghebohkan, bahkan di kalangan guru pun demikian. Menurunnya prestasimu menjadi salah satu kabar penyebabnya.

Pangeran es semakin membeku. Semakin tidak ada tawa dan canda. Kau terkurung oleh kecewa yang melanda. Sementara, prestasi seakan mentertawakan kebekuan yang seakan menjadi senjata.

Ada perasaan tak rela dengan semua ini. Prestasi yang menurun tak sepenuhnya salahmu. Kuketahui pula, betapa bebanmu sebagai atlit yudo begitu banyak menguras energimu. Kau dituntut untuk selalu menjadi yang terbaik. Tuntutan itu akhirnya membuatmu dingin, membeku bagaikan es.

Aku tak berhasil menyimpan semua rasa ini. Teman teman ku sudah mengetahui tentang perasaanku ini. Mungkin, kau juga bisa rasakan itu. Tak apa, tak masalah juga. Lagi pula aku hanya mengaguminya. Bukan ingin memiliki hatimu.

Aku tahu, perasaan ini memang wajar, karena aku sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Kalau kata Bu Raihana, “Ditha sudah terkena Virus Merah Jambu.”

Sekarang, kami sudah kelas 9. Tentunya, sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Maka dari itu, aku memutuskan untuk berhenti mengaguminya. Tetapi ternyata tak semudah yang kukira. Karena kini Milano sudah mulai mencair. Syukurlah.

Buat Pangeran Es, jangan beku lagi ya. Aku tak suka. Lagipula, kebekuan itu membuat dirimu justru sulit bergerak untuk mengejar prestasi yang tertinggal. Kembalilah seperti dulu. Kau ingat betapa gelak tawa seisi kelas membahana saat kau berdiri di depan, berceloteh bagaikan artis stand up comedi papan atas. Kau lihatkah saat itu ada air mata bahagia yang menitik di sudut mata Bu Guru kita?

Pada akhirnya, aku harus melepaskan. Bukan karena aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Guru kita bilang, ada saatnya rasa itu akan kita semaikan nanti. Aku pun menyadari, rasa kagum dan cinta padaNya harus kutanamkan kuat terlebih dahulu di dalam hati ini. Setelah itu barulah rasaku padamu. Mengagumimu tanpa diiringi rasa kagum dan cintaku padaNya akan menjadi sia-sia belaka. Sebab pada akhirnya, itu akan membuat kita kecewa.

Kita tunggu cerita hati ADIRAI berikutnya, ya.

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 07 Januari 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Banyak anak kita yg berbakat ya utie,,, kangen utie,, sehat2 ya utie

10 Jan
Balas

Alhamdulillah, betul Bu Lia. Anak kita ternyata hebat-hebat. Utie juga kangeeeennn. Salsm sehat dan sukses selalu. Barskallah, Bu Lia.

10 Jan

Subhanallah, bila anak didik sudah mampu mengungkapkan rasanya pada seorang guru, sudah dapat dipastikan guru tersebut teramat istimewa. Amazing. Virus merah jambu memang mewarnai masa pubertas mereka. Indahnya bisa memandu rasa itu disandarkan rasa pada-Nya, hingga anak tak salah jalan. Waduh aku belum bisa nih seperti ini, anak masih malu tuk ungkapkan rasanya. Teruntai doa untuk kakakku tercinta smoga Allah limpahkan rahmatNya agar kakak diberikan kesehatan dan barakallah

07 Jan
Balas

Di usia mereka sekarang ini, sangat rentang terserang virus merah jambu. Hal itu datang secara wajar dan alami. Tinggal bagaimana cara kita melakukan imunisasi dengan benar agar virus itu tidak membahayakan. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan apresiasinya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, deq.

07 Jan

Wow..endes bangets ceritanya khas anak muda..syuka..syuka....Virus merah jambu berbalut manisnya ungkapan cinta...Sukses untuk ADIRAI..Salam sehat dan sukses selalu...Barakallah...Bunda Rai...

07 Jan
Balas

Yeee...syuka virus merah jambu..ehem...ehem. ADIRAI sedang rentan-rentannya terserang virus merah jambu. Semoga imunisasinya sudah pas dan benar. Jazakillah khoir untuk kunjungannya, Bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

07 Jan

Virus Merah Jambunya disemai dalam kecintaan padaNya... Belajar menjadi sahabat bagi mereka yg terkena virus. Mksh, Bun.Sehat dan bahagia mendampingi Ditha dan kawan-kawan...

07 Jan
Balas

Betul, Bunda Fila. Virus merah jambu itu harus terinfeksi berbarengan dengan rasa cinta kepadaNYA. Dan, guru menjadi bagian yang harus bisa menemani mereka. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doanya. Barakallah, Bunda.

07 Jan

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali