Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Juara Tanpa Bertanding Hancurkan Mental Juara
Sumber: An Najah

Juara Tanpa Bertanding Hancurkan Mental Juara

Menang dan kalah dalam suatu pertandingan merupakan hal yang biasa. Menjadi hal yang luar biasa ketika seseorang dikondisikan menjadi pemenang tanpa bergelut di dalam sebuah pertandingan. Atau lebih tepatnya bukan luar biasa tetapi kebablasan.

Untuk mencapai tingkat tertinggi, seharusnya seseorang mendaki dari tempat yang paling rendah. Sehingga ia akan dapat membaca dan memahami medan yang dihadapinya pada tiap tingkatan. Dengan kata lain, jika mau menang harus bertanding dulu.

Apa manfaatnya seseorang mengikuti pertandingan sebelum meraih kemenangan? Membentuk mental juara, itulah jawabannya.

Seseorang dengan mental juara akan selalu punya mimpi besar dan berani mewujudkannya dengan penuh percaya diri. Selain itu, mental juara membuat seseorang tidak takut menghadapi kekalahan. Ia akan melakukan yang terbaik, keluar dari zona nyaman dan senantiasa berdoa untuk wujudkan mimpi dan raih kemenangan.

Jangan pernah menganggap diri pantas berada di tempat yang tinggi dengan mengabaikan dan memandang kecil pada orang-orang di bawah kita. Karena sejauh mata memandang, sesungguhnya kita juga terlihat kecil jika dilihat dari bawah.

Tulisan ini terinspirasi dari bincang-bincang para emak yang terkesan remeh temeh. Tetapi sesungguhnya bisa memporakporandakan puzzle karakter yang disusun dengan susah payah.

“Perlombaan di tingkat kelurahan, harus kita buat untuk memenuhi prosedur. Tetapi nanti yang kita kirim ke kecamatan si A saja. Prestasi A sudah bagus. Kemungkinan besar, dia tak mau lagi ikut di tingkat kelurahan. Supaya kelurahan kita bisa menjuarai, kita utus sajalah si A. Kalau lihat peserta lainnya, kita bisa kalah.” Para emak pun manggut-manggut menyetujui kecurangan itu, demi dapatkan nama baik.

Hasil kasak-kusuk sana-sini, ternyata pertandingan dengan kondisi demikian sudah menjadi rahasia umum. Ada pemenang, meski ia tidak bertanding. Sementara yang bertanding, tak akan jadi pemenang. Pertandingan digelar hanya sebagai formalitas saja. Astaghfirullah.

Duuh, kita sering lupa untuk tetap menjaga bangunan karakter yang kita dirikan sejak masa kanak-kanak. Prestasi dan nama besar sering membuat mata kita tertutup.

Alat indera kita terhijab untuk melihat, mendengar dan merasakan kebenaran , kejujuran, keadilan, atau apa saja tentang kebajikan. Kita tidak lagi bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Jika sudah demikian, masih pantaskah kita berharap akan hasil yang baik? Karena ternyata kita pun telah mengawalinya dengan langkah yang tak baik.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisiawalidengankejujuran#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 11 Juli 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Semoga kebiasaan yang tidak baik ini, dikumudian hari, tidak kita temukan lagi. Baraakallah Mbah Uthi selalu sehat.

13 Jul
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Bismillah. Jazakallah khoir untuk kunjungannya, Mbah Buya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Mbah Buya.

13 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali