Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Ketika Nadya Mati Gaya
Sumber: emulatoria.id

Ketika Nadya Mati Gaya

Tak seperti biasanya, Nadya terlihat uring-uringan. Sesiang ini, belum satu pun tulisan dihasilkannya. Wajahnya muram, hatinya gelisah. Bu Nida, ibu Nadya terheran-heran dibuatnya. Bu Nida pun merasakan perbedaan sikap anak wedhoknya itu.

Biasanya tak sampai waktu dhuha menjelang, Bu Nida sudah mendapatkan kiriman tulisan dari Nadya. Beberapa bulan belakangan ini, Nadya memang aktif menulis di blog remaja kota mereka. Tapi, sampai sesiang ini, belum ada tulisan Nadya satu pun.

“Ada apa nduk, koq ibu belum dapat kiriman tulisanmu hari ini?” Bu Nida bertanya pada Nadya yang sedari tadi hanya main game saja. “Malas bu, Nadya ndak mau nulis lagi,” jawab Nadya sambil matanya terus saja tertuju ke gawainya.

“Lho...lho, kenapa nduk?” Bu Nida mengerutkan dahi dan kembali bertanya. “Si Arif tu bu, dia bilang tulisan Nadya ndak berkualitas. Tulisan koq kayak curhat di buku harian saja. Arif bilang begitu, bu.” Nadya meletakkan gawainya pertanda dia mulai serius dengan pembicaraan itu.

“Tulisan kayak gitu, gak bermanfaat. Katanya tulisan Nadya termasuk kategori tulisan sampah,” Nadya kembali menambahi penjelasan pada ibunya dengan penuh emosi.

Bu Nida senyum-senyum memperhatikan mimik wajah gadis remaja itu. “Ibu ini, koq malah senyum-senyum sih,” Bersungut-sungut Nadya melihat senyum ibunya yang menggoda. “Ibu senang ya, Nadya dibully?” Rupanya masih ada lagi lanjutan kekesalan hatinya.

“Bukan begitu, nduk. Seharusnya kamu bersyukur karena si Arif sudah membaca tulisanmu dengan sungguh-sungguh. Itu buktinya dia mengerti banget apa yang kamu tuliskan,” Bu Nida berusaha menenangkan putrinya.

“Ndak masalah Arif bilang begitu. Itu kan pendapatnya. Lha...wong yang membaca tulisanmu kan bukan hanya Arif saja.” Bu Nida berhenti sampai di situ seakan memberikan peluang bagi Nadya untuk berpikir. Nadya terlihat masih merajuk, merasa bahwa ibunya malah membela si Arif.

“Begini Nadya, baik penulis ataupun pembaca terdiri dari orang-orang yang beraneka ragam. Kamu tak boleh patah arang. Bisa jadi tulisanmu tak bermanfaat bagi Arif, tapi masih banyak orang lain yang mungkin saja merasakan manfaat dari tulisanmu. Wong..., manusia persoalannya berbeda-beda koq.”

Ekspresi di wajah Nadya terlihat mulai mengendur. “Kamu jangan salah nduk. Banyak novel atau film yang diangkat dari catatan harian seseorang. “ Nadya terlihat semakin tertarik dengan penjelasan ibunya.

“ Nih ya ibu kasih contoh. Kamu pasti kenal dengan Raditya Dika. Sebelum ngetop banget seperti sekarang ini, dia mengawali karirnya dengan buku-buku yang dia tulis dari catatan hariannya. Salah satu novelnya yang berjudul Kambing Jantan, berisi kisah nyata yang dialaminya ketika menjadi mahasiswa di Australia.”

“Ibu koq tahu?” tanya Nadya penasaran. “ Ya tahu laa. Makanya rajin membaca. Wong jadi penulis koq malas membaca. Makanya, jadi mati gaya. Baru dikritik begitu saja sama si Arif, sudah mati gaya”, Bu Nida menggoda anak wedhoknya itu.

“Masih banyak lagi novel atau film yang terinspirasi dari catatan harian. The Diary of A Young Girl, catatan harian Anne Frank yang berusia 13 tahun di masa Perang Dunia II dulu. Dia mencatat semua yang dialaminya ketika berada di tempat persembunyian bersama keluarganya, di Amsterdam. Jadi apa salahnya kalau tulisanmu juga menceritakan kehidupan sehari-hari. Jangan mati gaya, nduk. Gue suka gaya lo,” Bu Nida mengakhiri motivasinya sambil menggoda Nadya.

Sebenarnya, Nadya masih ingin mendengarkan cerita ibunya, asyik terasa. Tapi keburu ibunya bilang, “ Sudah, baca sendiri sana. Sudah gede juga.” Bu Nida memutuskan harapannya.

“ Iya deh bu, mulai sekarang Nadya akan rajin membaca biar gak mati gaya. Biarpun hanya catatan keseharian, tapi...gayanya itu lho....ngangeni,” Sekarang giliran Nadya yang menggoda ibunya.

Wallahu a’lam bidhowab.

#edisikuatkanhati#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 27 Desember 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Saya sedang menulis dengan tema yang sama dengan bunda. Posting ga ya bun?

27 Dec
Balas

Lanjuuut....saja bunda. Jangan risau. Yuk, ditunggu Mati Gayanya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

27 Dec

Bu Nida kereeen .....saya juga mati gaya nih Bund...mondar-mandir buka tutup new file...hehehe...inspiratif Bunda Rai, sehat n sukses slalu...barakallah

27 Dec
Balas

Ayooo...bu guru, jangan mau kalah sama Nadya. Gue suka gaya lo. Jazakillah khoir sudah mampir. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bu guru.

27 Dec

Hahahaha, bisa aja Bu Nida mensupport anaknya, Nadya dengan kalimat berbalut canda. Benar sekali Bu Nida itu, terkait tulisan, setiap orang punya rasa dan gaya sendiri. Mungkin sampah bagi seseorang, namun bagi orang lain itu mutiara. Coba lihat pemulung, baginya barang bekas dan plastik yang bagi kira umumnya merupakan sampah, tapi baginya itu mutiara untuk menyambung hidupnya. Terkait manfaat pun berbeda tiap orang, tidak manfaat bagi seseorang, tapi bagi orang lain, sungguh amat manfaat. Jadi jangan mati gaya tuh Nadya, gaya mati aja, hehehe. Sukses selalu, teruntai doa untuk kakakku tercinta smoga Allah limpahkan rahmatNya agar kakak diberikan kesehatan dan barakallah

27 Dec
Balas

Gue suka gaya lo...hehehe. Lha iya, karena tiap orang berbeda-beda style, cerita hidup dan kebutuhannya. Karena itu, jangan mati gaya. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan tawanya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, deq.

27 Dec

Inspirasi sore yang luar biasa bund. Cara mensupport bu Nida sangat bijaksana. Saya juga sering mati gaya. Terimakasih. Salam sehat dan sukses bunda Rai, barakallah.

27 Dec
Balas

Kata Bu Nida, supaya tidak mati gaya, harus banyak membaca. Begitu kan, bunda ? Jazakillah khoir untuk kunjungannya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bunda.

27 Dec

Yah Nadya..itu seperti cerminan diriku Bunda..sedang mati gaya nih...Lagi males nulis...ha..ha ..Makasih ya semangatnya...Barakallah Bunda Rai....

27 Dec
Balas

Lho....lho....mosok sih. Yo wes ssiki mulai nulis meneh, men gak mati gaya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Nadya...eittss...Bunda Rini.❤❤❤

27 Dec

Baiklah, Bu. Nadya akan menulis... Mksh, Bun, semangatnya. Sehat dan berkah utk Bunda dan keluarga...

27 Dec
Balas

Ok...lah kalau begitu. Tulisan Nadya tak enteni. Jazakillah khoir, Bunda Fila. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah. ❤❤❤

27 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali