Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Kotaku Mulai Sering Dikepung Banjir
Sumber:Berita Sumutpost

Kotaku Mulai Sering Dikepung Banjir

Indonesia yang terletak di daerah tropis, pastinya memiliki dua musim yaitu kemarau dan penghujan. Sejak dulu pun sudah diketahui jika memasuki bulan yang berakhiran “ber” maka saat itu musim penghujan.

Keyakinan ini ntah kapan dan siapa yang memulai, namun kenyataannya demikian. Walau terjadi pergeseran musim yang katanya karena terjadinya global warming, namun tidaklah signifikan. Artinya, pada bulan yang berakhiran “ber” pastilah musim penghujan. Seperti yang sekarang terjadi.

Hampir setiap hari hujan turun. Namun, sejak kemarin intensitas curah hujan sangat tinggi sekali. Baik dari derasnya curah hujan ataupun durasi waktu turunnya hujan.

Akibatnya, dua hari ini (Selasa dan Rabu, 9-10 Oktober 2018) Medan, Deli Serdang dan sekitarnya terkepung banjir. Bahkan dalam pengamatanku, meskipun hujan yang turun tidak deras ataupun lama, banjir pun sudah sangat mudah terjadi. Konon pula jika hujan yang turun deras dan lama.

Faktor utama terjadinya banjir, pastilah intensitas curah hujan yang sangat tinggi. Untuk hal yang satu ini, tidak ada yang bisa mencegah. Semua karena kuasa dan limpahan rahmat-Nya semata.

Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya juga segala fenomena yang terjadi didalamnya. Hujan yang diturunkan Allah merupakan bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Air hujan tidak identik dengan banjir dan bencana, karena air hujan mendatangkan banyak manfaat bagi kehidupan di bumi. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 10-11.

Namun, Allah juga mengingatkan bahwa hujan diturunkan secara bergiliran di muka bumi. Hal ini pun dapat kita pelajari dengan jelas dalam “Siklus Air” yang ada di bumi ini. Pada yang demikian itu Allah mengingatkan manusia untuk mengambil pelajaran atas apa yang terjadi agar tidak terjadi hal-hal yang mudharat dan membahayakan manusia. Namun kebanyakan kita lupa akan nikmat yang diberikan Allah SWT. Allah memahami betul sifat-sifat hamba ciptaan-Nya, seperti firman Allah dalam surat Al Furqon ayat 50.

Maka, sebenarnya datangnya hujan sudah ditentukan Allah. Hanya kepada kita diminta mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Salah satu usaha yang dilakukan pemerintah daerah adalah membuat waduk atau kanal tempat menampung debit air yang berlebihan manakala terjadi curah hujan yang sangat tinggi. Namun banjir tetap saja terjadi.

Jika demikian, kita coba menelaah dari berbagai sudut pandang yang lain. Ternyata, menurut para ahli lingkungan hidup banyak faktor yang dapat menyebabkan banjir. Faktor-faktor ini perlu kita pelajari dan sedapat mungkin kita upayakan dapat mencegah terjadinya banjir.

1. Hilangnya Kawasan Resapan Air.

Hal ini dapat terjadi disebabkan pembangunan-pembangunan yang tidak mempertimbangkan AMDAL. Banyak daerah penampungan air alami seperti rawa-rawa, kubangan, hutan bakau bahkan lahan pertanian berupa sawah dan ladang yang beralih fungsi menjadi bangunan perumahan ataupun perkantoran. Dimana pembangunan ini tidak diimbangi dengan penyediaan daerah resapan ataupun saluran air yang memadai. Seharusnya para depelover, kontaktor ataupun pengusaha memikirkan bagaimana caranya agar daerah di sekitar gedung-gedung yang dibangun tidak terendam banjir.

2. Penebangan pohon di perkotaan.

Banyak pohon ditebangi untuk membangun trotoar di jalan-jalan perkotaan, tanpa menggantinya dengan pohon yang baru.

Salah satu fungsi akar pohon adalah sebagai penyerap air. Jika pohon banyak yang hilang maka akan dengan mudah terjadi banjir didaerah perkotaan.

3. Membuang sampah di sembarang tempat.

Slogan membuang sampah pada tempatnya, terasa sangat tidak asing lagi bagi kita. Namun, anehnya masih tetap saja sampah-sampah dibuang di sembarang tempat dalam keadaan “sadar”. Rasanya, juga terlalu naïf jika harus menjelaskan bahwa sampah yang menumpuk dapat menyebabkan banjir. Sepertinya semua orang tahu itu. Tetapi pada kenyataannya, hal ini termasuk faktor yang sering terjadi di masyarakat. Sebegitu tidak pedulinya kah kita terhadap lingkungan ini ? Lantas jika lingkungan rusak, kita mau hidup dimana?

4. Pemukiman di bantaran sungai atau aliran air.

Pemukiman yang dibangun di bantaran sungai , rentan membuat sungai menjadi dangkal. Salah satunya kebiasaan membuang sampah di tepi sungai atau bahkan di badan sungai. Keadaan tanah di kiri kanan banguan juga mudah runtuh karena kikisan air. Runtuhan tanah ini dapat menutupi sisi sungai sehingga sungai menjadi menyempit dan banjir. Dalam hal ini perlu ketegasan pemerintah daerah untuk pembangunan di daerah bantaran sungai. Tentunya dibarengi dengan solusi agar masyarakat yang belum memiliki tempat tinggal yang layak dapat terbantu. Sebagai contoh, membangunkan perumahan sederhana yang layak bagi rakyatnya tentu lebih utama ketimbang membangun perumahan mewah yang menutupi daerah resapan air. Sementara penghuni rumah tersebut pun ntah berada dimana karena memang sudah memiliki rumah dimana-mana. Seakan dapat dengan mudah mengatakan “Selamat tinggal banjir”, karena mampu dengan mudah “terbang” ke daerah yang ia suka dan bebas dari banjir.

5. Salah sistem kelola tata ruang.

Perkembangan pembangunan yang luar biasa, pastilah sangat membahagiakan. Namun merajalelanya pembangunan yang membuat daerah resapan air menjadi tertutupi dengan hamparan semen, membuat resapan air berjalan lambat. Ditambah lagi kurang sigapnya sistem kelola tata ruang, terasa lengkaplah faktor penyebab banjir itu terjadi.

Wallahu a'lam bishowab.

#edisicintalingkungan#

Medan, 10 Oktober 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Di Medan sudah banjir bun? Di sini hujannya masih malu-malu. Semoga bunda di Medan selalu sehat selalu apapun kondisi cuacanya

11 Oct
Balas

Iya bunda, sudah dua hari banjir. Aamiin ya robbal alaamiin, jazakumullah khoiron katsiro doanya, bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...bunda.

11 Oct

Luar biasa paparan yg komprehensif ttg hujan dan penyebab banjir. Miris memang kejadian banjir terus terjadi dg penyebab yg selalu sulit ditanggulangi, krn kurangnya kesadaran madyarakat. Semkfa kk sehat selalu dan barakallah

10 Oct
Balas

Iya...deqquuu. Terasa sangat naif, ketika kita rata-rata mengetahui faktor penyebabnya tetapi tetap saja tidak bisa mencegahnya. Jazakumullah khoiron katsiro atensinya dan doanya selalu untuk kakak. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...deqquuu.

10 Oct

Subhanallah....Allah yang telah mempergilirkan hujan..di sana banjir..di sini kemarau....Semoga semuanya ada hikmahnya.. Barakallah Bunda Rai...

10 Oct
Balas

Pasti Allah selipkan hikmah pada setiap peristiwa, bunda. Jazakumullah khoiron katsiro sudah menjenguk banjir di kota Medan. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...bunda. Oh...ya, mba Tia sudah pulih kembali kah ?

11 Oct

Alhamdulillah Bunda...sudah tiga hari ini mulai masuk sekolah...

11 Oct

Alhamdulillah.

11 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali