Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Literasi dan Pelukan Hangat Menjadi Penguat di Puasa Perdananya
Fahira Keyoza Ar Rasyid ( 5 tahun 4 bulan) dan Faihana Keyoza Anaz (3 tahun)

Literasi dan Pelukan Hangat Menjadi Penguat di Puasa Perdananya

Siang ini, kudengar celotehnya riang bersama sang adik. Hatiku pun menjadi lega dibuatnya. Tidak seperti hari pertama kemarin. Fahira, terkesan lemah menjalani puasa perdananya.

Alhamdulillah, Fahira termasuk anak yang tidak rewel. Ia hanya diam dan tiduran di kamar sebagai usaha untuk mempertahankan shaumnya. Hingga menjelang waktu berbuka, Fahira masih tidur juga dan tak mau dibangunkan.

Hatiku jadi ketar-ketir dibuatnya. Apakah saking lemahnya, hingga Fahira tak bisa bangun? Mungkinkah emaknya memaksakannya harus puasa seharian? Berbagai pertanyaan melintas di benakku. Kepo juga awak gegara puasa perdana cucu.

Tahun ini, Fahira memang mulai dilatih lebih serius dalam menjalankan puasanya. Mengingat usianya yang sudah 5 tahun 4 bulan. Ada bayaran dari Mbah Buya, jika Fahira bisa puasa dengan baik. Fahira ingin beli tas dan sepatu baru. Motivasi awal ini, untuk melatih kekuatannya agar terbiasa berpuasa. Seiring berjalannya waktu, apa dan bagaimana puasa itu sesungguhnya, harus kita beritahukan pula kepadanya.

Aku pun jadi ingat puasaku dulu. “Puasa Bayaran”, begitu aku menyebutnya. Bapak menjanjikan benda bernama rupiah bagi yang puasa. Saat itu, Bapak juga menyediakan banyak majalah dan buku bacaan untuk mengisi dan menunggu waktu berbuka. Sehingga anak-anak tetangga banyak pula yang menghabiskan waktu puasanya dengan membaca sambil tiduran di ruang tamu rumah kami.

Godaan terbesar bagi Fahira, datang dari Faihana adiknya yang belum genap berusia 3 tahun. Faihana yang belum mengerti akan kewajiban puasa, berulang kali meminta susu pada emaknya. Pastilah Fahira jadi glek dibuatnya.

Tak cukup hanya susu, berulang kali pula Faihana meminta makan. Padahal biasanya tidak demikian. Bagi orang tua, situasi seperti ini butuh kesabaran ekstra. Satu anak sedang dilatih berpuasa sementara anak yang lain, belum mengerti.

Kulihat, Fahira diamankan oleh emaknya di kamar. Apa yang dilakukan? Bercerita. Cerita bagaimana bahagianya orang yang berpuasa memperoleh pahala dari Allah. Mata Fahira berbinar-binar di pelukan emaknya.

Tetiba, Faihana masuk ke dalam kamar dengan sepotong semangka segar di tangannya. Ia memang sudah bisa mengambil makanan sendiri di dalam kulkas. Satu lagi, Faihana memang juara kalau soal makan. Hihihi..., lihat aja pipinya yang chuby. Alamaaak...., si Faihana ini laaa. Melihat hal itu, “Maaak...,” rengek Fahira pada emaknya.

“Faihana..., gak boleh gitu. Mbak puasa.” Faihana pun diangkat ke luar kamar. “Sebentar ya..., Mbak. Nanti kita cerita lagi sambil Mamak peluk ya,” bujuk emaknya pada Fahira sambil meladeni Faihana. Fahira pun merasa aman kembali.

Sampai hari ke-4 ini, literasi dan pelukan hangat masih menjadi senjata paling ampuh untuk menenangkan Fahira. Selain bercerita, terkadang ia mewarnai bersama Faihana yang hobi mencoret dinding.

Melibatkannya dalam menyusun menu berbuka, juga membuat ia semakin semangat. Ia merasa orang yang berpuasa diistimewakan.

Membuat puding, menjadi kegiatan favoritnya. Apalagi jika diminta menuangkan adonan puding ke dalam mangkuk cetakan dengan bentuk yang beraneka ragam.

Apapun cara yang dilakukan orang tua dalam melatih anak-anaknya berpuasa, kesabaran menjadi modal utamanya. Selain itu, jiwa literat pun harus kuat. Orang tua harus punya modal bahan literasi yang cukup untuk bercerita pada anaknya seputar masalah puasa Ramadhan. Sehingga dengan demikian anak akan mengetahui hakikat puasa yang sebenarnya di dalam latihannya itu.

Lakukanlah semuanya itu dengan lemah lembut, seperti Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memperlakukan anak-anak.

Rasulullah pernah bersabda, “Segala sesuatu yang dibarengi dengan kelembutan niscaya akan membuatnya menjadi lebih cantik dan indah. Jika kelembutan terenggut, segalannya akan menjadi rusak dan jelek.” (HR: Muslim)

"Uthi..., yuk bikin puding semangka," ajaknya sambil membangunkan aku yang masih tertidur. Hehehe.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisimelatihcucupuasa#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 4 Ramadhan 1440 H/ 9 Mei 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Subhanallah, luar biasa Fahira sudah bisa puasa full. kereen Kak. Aku dulu yang sering godain abangku puasa, selisih umur kami hanya 1,5 tahun, hehehe. Selalu ada ibrah dibalik cerita Kakak. Harus sabar dan pandai kemas agar anak mampu lewati puasa. Teruntai doa untuk Kakakku tercinta agar tercurah rahmat Allah srmoga Kakak diberi kesehatan dan barakallahu fiik untuk kesehatan dan barakallahu fiik

09 May
Balas

Alhamdulillah, Fahira termasuk tidak rewel, Deqquuu. Naah..., Faihana lah penggoda Fahira...hehehe. Semoga latihan ini akan berhasil dengan baik. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doanya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Deq.

09 May

Itulah salah satu kebahagiaan kita. Melihat generasi yang akan kita tinggalkan. Mau mengikuti apa yang dilakukan Mbah Buya dan Mbah Uthinya. Ayah dan Ibunya. Barakallah Mbah Uthi

09 May
Balas

Cucu-cucu penghibur hati pelipur lara. Jazakallah khoir telah melengkapi tulisan ini. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Mbah Buya.

09 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali