Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Literasi Tepi Jalan

Literasi Tepi Jalan

Bagaimana kita memaknai kata Literasi? Sebagian orang beranggapan bahwa literasi hanya sebatas dunia baca tulis saja. Namun jika pun hanya baca tulis, sesungguhnya dari keduanya justru menggambarkan bahwa literasi sangat luas, tiada tepi. Seolah tak berbatas.

Bukankah membaca tak hanya diartikan sebatas membaca buku? Justru kata membaca memiliki makna yang sangat luas. Tak cukup membaca yang tersurat tetapi juga yang tersirat. Membaca segala sesuatu yang ada di alam sekitar kita, sebagai ayat-ayat kauniyah Allah.

Demikian pula dengan menulis. Tidaklah hanya menggandengkan huruf-huruf hingga membentuk kata. Kata-kata bersanding membentuk kalimat. Namun, lebih dari pada itu makna menulis sangatlah luas. Hingga mengajar, mendidik serta membimbing anak ataupun siswa sehingga tersusun puzzle karakter pada dirinya. Demikian pula mencari solusi akan masalah yang dihadapi, juga merupakan makna dari menulis.

“Banyak juga yang beli baksonya, ya Kak,” Bunda Mimi mulai buka suara setelah merasakan nikmatnya bakso yang kami pesan dan banyaknya pembeli yang datang. Sore itu, setelah menyusun rak buku di “Rumah IPPSU”, terdengar suara keroncongan dari kampung tengah (baca: lambung). Tukang bakso yang mangkal di tepi jalan, di depan Museum Perkebunan Indonesia (Musperin) menjadi sasaran kami.

Literasi pinggiran jalan pun dimulai. Melihat (membaca), memahami, mengapresiasi, dan mencoba mencari solusi atas fakta yang dilihat (dibaca) saat itu. Sambil menikmati bakso yang didampingi jeruk peras.

“Kalau seandainya para pedagang di tepi jalan ini digusur, bagaimana mereka mencari rezeki, ya?” Kalimat tanya yang dilontarkan Bunda Mimi ini, tak tahu ditujukan pada siapa untuk menjawabnya. “Hatiku menangis lho Kak jika mereka digusur,” imbuhnya pula. Kalimat yang terakhir ini, aku tahu pastinya ditujukan padaku.

Di sinilah literasi jalanan itu harus diaplikasikan. Bagaimana kita bisa pintar membaca situasi dan kondisi di tepi jalan dikaitkan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Jelikah kita mencarikan masyarakat akan peluang-peluang untuk mendapatkan pundi-pundi sumber rezeki? Mampukah kita menuliskan rasa aman bagi suburnya ketentraman dalam mendapatkan kehidupan yang sejahtera?

Ketajaman pisau literasi pun akhirnya harus diasah agar dapat mengupas tuntas semuanya.

Oh...., literasi jalanan.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisiliterasitiadatepi#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 11 Juli 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sebuah pemahaman dari setiap sisi kehidupan. OK Bun

11 Jul
Balas

Mencoba membaca dan memahami apa yang ada di sekitar kita, Pak Guru. Jazakallah khoir untuk kunjungannya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Pak Guru.

11 Jul

Membaca yang tersurat dan tersirat, agar hati tidak mati. Luar biasa Bund..semoga sehat dan sukses. Barakallah..

12 Jul
Balas

Belajar membaca dan menulis, mengasah kepekaan rasa. Betul, Bu Lupi..., agar hati tidak mati. Jazakillah khoir untuk kunjungannya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bu Guru.

12 Jul

Betul dan setuju sekali, Dik Nana. Pemahamanku terhadap literasi juga begitu, sampai kumpulan puisiku terbit dengan judul, "Membaca Tanda". Itu buah literasi membaca dalam makna yang seluas-luasnya. Karena sesungguhnya apa yang terlihat, tercium, terdengar, teraba, terasa, dan terjadi adalah tanda kebesaran Allah SWT. Tinggal kita peka atau tidak akan tanda-tanda itu atau tidak. Jadi bagiku membaca dalam konteks yang sesungguhnya adalah kemauan untuk memahami, mencerna, menganalisis, meyimpulkan, mengapresiasi, mengambil kesimpulan, berempati, peduli, dan sikap-sikap positif lainnya. Segala aktivitas membaca tersebut tentu dirindaklanjuti dengan menulis karena daya ingat kita sangat terbatas. Juga agar pesannya tersampaikan kepada orang lain. Wah, tulisan yang ringan tapi sangguh mematik orang lain berpikir dan berbagi kebaikan. Salam sehat dan sukses, semoga berkenan dengan komenku ini.

12 Jul
Balas

"Membaca Tanda", -pastilah kumpulan puisi yang mampu menguras rasa. Puisi-puisi Mbak memang luar biasa. Mau dong...., Mbak. (Ngarep.com.) Alhamdulillah...., ini bukan komen biasa. Komen Mbakku selalu jadi pemantik bagiku untuk lebih banyak menulis. Lihatlah, komen Mbak sudah hampir sama banyaknya dengan tulisan sederhana ini. Sangat bahagia rasanya mendapat komen yang menguatkan seperti ini. Terlihat bahwa Mbakku betul-betul membaca sepenuh hati. Jazakillah khoir, Mbakku. Salam sehat, bahagia dan sukses selalu. Barakallah, Srikandi Dieng.

12 Jul

Subhanallah, ada yah literasi tepi jalan. Kupikir hanya ada literasi pengantin baru, hehehe. Enak banget yah baksonya Kak, aku mau dong, hehehe. Teruntai doa untuk Kakakku tercinta agar tercurah rahmat Allah terlimpah untuk kesehatan Kakak dan barakallahu fiik

12 Jul
Balas

Literasi tiada tepi....., sepertinya begitu Deqquuu. Tak ada lini kehidupan kita yang tidak tersentuh literasi. Aah...Deqquuu ini, ilmu padinya tinggi banget. Kura-kura dalam perahu....hehehe. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doanya yang terus mengalir. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Deq.

12 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali