Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Memaknai Arti Merdeka
Sumber: detak.com

Memaknai Arti Merdeka

Bu Rina tertegun membaca angka-angka yang tertera pada kertas yang ada di tangannya. Tahun ini, bu Rina terpilih menjadi panitia perlombaan untuk menyambut ulang tahun kemerdekaan ke 73 negara tercinta ini di sekolah mereka. Selama ini bu Rina tidak pernah berpikir terlalu jauh tentang berbagai perlombaan beserta hadiah yang dibagikan oleh panitia. Tetapi ketika sekarang dia terlibat didalam kepanitiaan, ada rasa yang menusuk didalam hatinya. Rasa apa???

Bu Rina masih diam termenung ketika bu Mia menegurnya untuk segera berkemas-kemas karena mereka akan pergi ke pusat pasar untuk berbelanja hadiah yang sudah ada tertulis didalam daftar yang kinipun sudah ada di genggaman tangannya. “Kenapa sih bu, dari tadi koq diam aja?” tanya bu Mia pada rekan kerjanya itu. “Gini lho…bu, hati saya ini koq ndak enak ya,” bu Rina pu mulai menjawab pertanyaan bu Mia.

“Ndak enak gimana?” bu Mia jadi makin penasaran dengan jawaban rekannya itu. “Itu…lho bu. Ternyata dana yang kita belanjakan untuk membeli hadiah acara kita ini , jumlahnya sangat banyak ya bu.” Bu Mia justru mengernyitkan dahi tanda keheranannya dengan penjelasan bu Rina. Bukankah selama ini memang demikian.

Setiap tahun sekolah mereka mengadakan acara yang sama dengan aneka hadiah yang harganya memang mencapai jutaan rupiah. Tahun ini anggaran yang disediakan untuk dana itu sebesar 25 juta rupiah. Lantas kenapa bu Rina mengherankan hal ini.

“Iya, selama ini kan saya ndak ikut kepanitiaan sehingga tidak melihat angka-angka ini dengan jelas.” Bu Rina berhenti sejenak seolah mencari bait-bait kalimat yang cocok. “Maksud saya begini lho bu Mia. Melihat dana yang begitu besar, koq saya jadi teringat dengan siswa-siswa kita yang tidak mampu yang seringkali tertunda mengikuti ujian karena belum melunasi segala macam administrasi sekolah.” Terlihat wajah bu Rina menerawang

“Lantas, maksud bu Rina ini bagaimana sih?” bu Mia pun terbawa suasana bingung yang muncul dari percakapan mereka. “Saya berpikir, apa tidak lebih baik dana sebesar itu kita peruntukkan bagi mereka saja ya bu?” bu Rina akhirnya berhasil menyampaikan argumentasinya dengan satu pertanyaan seolah meminta pendapat bu Mia.

“Aduh.., bu Rina ini ada-ada saja lho. Kan semua dana sudah ada peruntukkannya masing-masing. Lagian ini kan juga untuk promosi sekolah kita. Biar masyarakat sekitar kita tahu kalau kita aktif, peduli dan mau berbaur dengan masyarakat.” Bu Mia mencoba membuat temannya itu mau mengerti. “Ntahla bu, hati saya tetap tidak nerima. Kan sama saja, kalau kita berikan pada anak-anak , ya itu kan tandanya kita memiliki kepedulian yang tinggi pada masyarakat.” Bu Rina masih bertahan dengan pendapatnya. Bu Mia pun jadi diam seribu bahasa.

Bagaimana bu Mia tidak diam, wong jadwal pertandingan sudah disusun bahkan beberapa pertandingan sudah dilaksanakan. Mungkin di hari berikutnya bisa dipertimbangkan pemikiran rekannya yang juga diam seribu bahasa di sampingya itu. Tetapi didalam diamnya, bu Mia membenarkan juga pemikiran bu Rina.

Bu Mia pun jadi ingat ketika dia membaca tentang negara Korea yang hari kemerdekaannya hanya beda dua hari dengan negara kita. Jika Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, maka Korea pada 15 agustus 1945. Belum lagi mereka masih harus menderita dengan perang saudara sehingga terbentuknya Korea Utara dan Korea selatan. Saking menderitanya sehingga makan nasi pun sulit.

Tetapi ternyata sekarang mereka sudah sangat maju dan meninggalkan Indonesia jauh di belakang. Dalam memperingati hari kemerdekaannya, orang Korea cukup mengibarkan bendera tanpa kegiatan yang hiruk pikuk apalagi menghambur-hamburkan hadiah.

Rasa cinta kepada Negara mereka tunjukkan dengan kerja keras, menuntut ilmu demi kemajuan dan perkembangan negara tercinta. Kenapa kita tidak seperti itu? Wallahu a’lam bishawab.

#edisimuhasabah#
Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 10 Agustus 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali