Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
PEREMPUAN  ITU  TERBUNUH (7)

PEREMPUAN ITU TERBUNUH (7)

Angin berhembus sepoi-sepoi pagi itu. Beberapa daun berguguran terbang ditiup angin, melayang dan akhirnya jatuh juga ke tanah. Perempuan itu baru saja keluar dari kelas karena bel tanda istirahat telah berbunyi. Terdengar suara memanggilnya dari belakang. Ketika dia menoleh ternyata suara itu milik bu Cory yang terlihat agak mempercepat langkahnya agar bisa berada di samping perempuan itu. Perempuan itu pun menghentikan langkahnya menunggu Bu Cory. “Waah…apa kabar Dek Cory, dari kemarin kelihatan sibuk terus ya..?”, Tanya perempuan itu ketika Bu Cory sudah tepat berada di sampingnya mensejajarkan langkahnya. “Iya..Mbak. Cory minta ma’af sama Mbak karena sudah membuat Mbak repot dititipin anak-anak, dan sekaligus terima kasih banyak ya..Mbak”, sahut Bu Cory.

Terlihat Bu Cory seolah mengatur nafas untuk kemudian melanjutkan ceritanya pada perempuan itu. “Itulah…Mbak.., Cory mau cerita sama Mbak. Kita cari tempat yang nyaman ya Mbak..”, ajak Bu Cory pada perempuan itu. Mereka pun menuju tempat duduk yang memang sengaja dibuat di bawah pohon Angsana di halaman sekolah. Suasana di halaman sekolah itu memang sangat nyaman karena dipenuhi oleh pohon-pohon besar seperti Angsana, Tanjung, Mahoni, Cemara , ada juga pohon Beringin putih di sana. Hal itu wajar-wajar saja karena memang sekolah itu sudah berhasil memperoleh predikat Sekolah Adiwiyata tingkat nasional.

Bersamaan mereka duduk di tempat duduk yang tebuat dari keramik itu. Perempuan itu mengamati wajah Bu Cory lekat-lekat. Masih terlihat kesedihan dan bekas tangisan pada wajah Bu Cory seperti semalam juga. Perempuan itu dapat melihat dengan jelas kalau Bu Cory berusaha menahan agar butiran bening yang sudah di pelupuk matanya tidak mengalir keluar. “Tidak mengapa jika Dek Cory memang harus menangis..”,perempuan itu memulai percakapan mereka sambil menyentuh pundak Bu Cory. Bu Cory menghela nafas ketika akan memulai kata-katanya,:”Mbak…., semalam Cory ke Pengadilan Agama untuk menggugat perceraian dengan Mas Bagas…”, akhirnya Bu Cory berhasil memulai kata-katanya. Tentu saja perempuan itu terkejut mendengar cerita Bu Cory. “Cory sudah pertimbangkan baik buruknya dan juga sudah meminta nasehat pada keluarga besar Mbak”, lanjut Bu Cory tanpa memberi kesempatan perempuan itu untuk bertanya lagi. “Ternyata sudah 2 tahun Mas Bagas menikah dengan wanita lain didaerah tempat Mas Bagas bertugas dan mereka sudah memiliki anak perempuan.., Mbak”, lanjut Bu Cory dengan suara yang lirih hampir tidak terdengar jika perempuan itu tidak dengan sungguh-sungguh mendengarkannya. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir perempuan itu. Dia hanya memandangi Bu Cory dengan mata yang juga berkaca-kaca . Mengaca di mata perempuan itu peristiwa 15 tahun yang lalu. Bersamaan dengan itu bel berbunyi sebagai tanda waktu istirahat telah berakhir, perempuan itu masih terdiam seribu bahasa. Bersambung……..

Rumahku, Ba’da Isya’ 9 Februari 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah bagus banget, ditunggu sambungannya

09 Feb
Balas

Insyaa Allah...Pak. Alhamdulillah..terimakasih sudah mampir. Baarokallah...Pak.

09 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali