Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Post Power Syndrome

Post Power Syndrome

“Pesanan Lulu, kan Pak?” tanyaku pada driver on line sembari membuka pintu mobil dan duduk di barisan jok kedua. “Betul, Bu. Kita ke Darul Ilmi Murni, Bu?” Jawab pria paruh baya itu sambil bertanya kembali padaku. Aku pun mengiyakannya.

Mobil mulai bergerak perlahan, hanya ada suara musik dari albumnya Chrisye yang mengalun lembut. Dalam hatiku, sangat kebetulan sekali karena aku ngefans berat pada penyanyi legendaris itu. Tak ada lagunya yang tak bisa kunyanyikan, meski hanya selevel penyanyi kamar mandi.

“Ibu mau berenang di lembah DIM?” tetiba Pak Driver melontarkan tanya padaku. “Oh...tidak, Pak. Ada pertemuan dengan teman-teman guru di sana.” Jelasku kemudian. Memang, di Perguruan Darul Ilmi Muni ini banyak pengunjung umum yang berenang di sana.

“Ooh...ternyata ibu seorang guru. Syukurlah Bu, seorang guru sangat mulia, menurut saya.” Kudengar Pak Driver memuji profesi yang katanya wajib digugu dan ditiru. “Saya pensiunan ASN di Dinas Pendapatan Daerah, Bu.” Tanpa kuminta ia menjelaskan statusnya.

Akhirnya sepanjang perjalanan, kuperoleh banyak pelajaran hidup dari seorang pensiunan ASN yang kufikir ceritanya sangat bermanfaat bagi orang lain.

“Saya sempat mengalami Post Power Syndrome,” kalimat ini yang terus terngiang di telingaku. Jujur, saat itu aku masih belum mengerti sepenuhnya dengan apa yang dikatakannya. Sambil sesekali memberikan respon pada ceritanya, aku berusaha mencari tahu apa itu Post Power Syndrome. Pada siapa lagi kalau bukan Mbah Google. Jemariku pun menari, mencari tahu di layar android.

Post-power syndrome, adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Penderita Post Power Syndrome selalu ingin mengungkapkan betapa bangga dengan masa lalu yang dilewatinya dengan jerih payah yang luar biasa (menurutnya). Post power syndrome (PPS), sindrom ini terjadi pada orang yang tidak bisa menerima hidupnya, individu yang semula merasa hebat tetapi secara tiba-tiba kehilangan semuanya, yang sering juga disebut syndrome pensiun. (hhtp://www.kompasiana.com/lestarirahmah/5b89f3)

Keterangan tersebut di atas kudapatkan, sehingga membuatku bisa memberikan respon yang baik bagi cerita dari purna bakti abdi negara tersebut.

“Lantas, bagaimana cara Bapak bisa terlepas dari sindrom yang sering menghantui para purna bakti itu?” Tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu.

“Segera saya menyadari bahwa hidup ini terus berjalan. Ada fase yang harus kita lewati. Pada setiap fase kehidupan, manusia memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Kini, saya telah sampai pada fase dimana saya harus banyak merasa syukur karena telah begitu banyak nikmat yang diterima dari-Nya. Jadi, yang pertama harus kita lakukan adalah senantiasa bersyukur. Kemudian, kembali saya menata diri. Karena sesungguhnya tak ada yang bisa menolong kecuali diri kita sendiri. Saya berusaha agar aktivitas sebelum dan pascapensiun tetap sama. Dengan demikian sangat berpengaruh baik bagi organ tubuh. Bagi saya, yang paling penting adalah menjaga kesehatan tubuh dengan tujuan di ujung usia ini, dapat beribadah dengan lebih baik kepada-Nya.”

Kudengarkan dengan baik apa yang disampaikan oleh bapak driver on line itu. Dalam diam, aku mengamini apa yang disampaikannya.

“Jujur saya akui, Bu. Terasa bagaikan langit dan bumi ketika pertama kali menerima gaji pensiun. Karena sebelumnya, saya bisa mendapatkan premi ratusan juta per tahun dan semua itu menghilang setelah pensiun.” Spontan aku terkejut dengan premi ratusan juta itu. Namun, ujaran beliau berikutnya sangat menyejukkan hati dan membuat guru tak perlu berkecil hati dengan gaji yang minim dibandingkan dengan profesi lain, walaupun sesama ASN.

“Saya fikir, paling beruntung menjadi guru. Selisih gaji guru yang tidak mencolok jauh ketika aktif dan setelah pensiun, membuat kehidupan guru berjalan stabil. Lagipula, aktivitas mengajar tetap dapat dilakukan walau bukan di sekolah. Bukankah pendidikan itu berlangsung sepanjang hidup, Bu?”

Sampai di sini, rasa syukur pun memenuhi rongga dada untuk profesi mulia yang kugeluti selama ini. Betapa Bapak driver on line tanpa sadar telah mengajarkan banyak hal dalam menyikapi hidup terutama ketika memasuki purna bakti.

Jika kita tidak merasa bersyukur, maka sindrom itu akan berkepanjangan. Post Power Syndrome akan senantiasa mengintai orang-orang yang selalu ingin dihormati, orang yang menempatkan arti hidup pada prestise jabatan. Demikian pula bagi orang-orang yang memiliki kebiasaan mengatur orang lain, pun yang selalu ingin dilayani, serta orang-orang yang membutuhkan pengakuan dari orang lain.

Hilangnya jabatan ataupun pekerjaan karena telah pensiun akan membuat orang-orang dengan kebiasaan tersebut di atas, menjadi tidak percaya diri dan kehilangan kekuatannya. Dengan demikian orang-orang yang mengalami Post Power Syndrome adalah orang-orang yang tidak bisa menerima kenyataan yaitu perubahan aktivitas dan juga status.

Jika tidak segera disikapi dengan baik, maka akan memunculkan sikap pemarah, mudah tersingung, kesal, iri, atau sebal, dan apapun yang dikerjakan orang selalu salah di matanya. Dan jika terus berlarut-larut, bukan tidak mungkin akan menimbulkan gangguan kejiwaan.

“Alhamdulillah, dengan senantiasa bersyukur dan penguasaan diri yang baik, tak ada satu pun asset saya yang tergeser meski gaji yang saya terima tidaklah sebanyak dulu, Bu. Demikian pula dukungan di dalam keluarga sangat besar peranannya. Seisi rumah dapat menerima pula keadaan ini. Kehidupan di dalam rumah kami tak ada yang mengalami perubahan drastis. Semua seakan berjalan sama seperti ketika saya belum pensiun.” Bapak driver on line menyimpulkan sendiri ceritanya dan apa yang dijalaninya pasacapensiun sehingga terhindar dari Post Power Syndrome.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisiuniversitaskehidupan#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 5 Juli 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulillah bisa kembali membaca tulisan Uthi.....lama tidak membuka Gurusiana he...he...

06 Jul
Balas

Subhanallah, paparab yang ciptakan rasa syukur di hati dan kesiapan mental untuk ke depannya. Terlebih bagi guru non ASN, yang tak akan ada gaji pensiun ketika tidak lagi mengajar, seperti aku. Terima kasih sudah mengingatkan. Teruntai doa untuk Kakakku tercinta semoga rahmat Allah terlimpah untuk kesehatan Kakak dan barakallahu fiik

05 Jul
Balas

Alhadulillah Mbah Uthi nulis lagi, tulisan yang mengingatkan Abah dan juga orang lain yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun. Karena Mbah Buya juga guru InsyaAllah tidak ada masalah. Barakallah Mbah Uthi Selalu sehat

05 Jul
Balas
search