Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Ridho Allah Ada pada Ridho Orang Tua
Hawarizmi Harfani Ar Rasyid (Dokpri)

Ridho Allah Ada pada Ridho Orang Tua

“Lho..,jadi mama sendirian ini di rumah?”, tanyaku bingung ketika menyadari semua anggota keluarga di hari minggu ini, pergi dengan kesibukannya masing-masing. Menghadiri undangan dari kerabat dan handai tolan. Dengan kondisi kaki yang belum sembuh aku tidaklah mungkin ikut serta namun juga orang-orang di rumah tidak mungkin tidak memenuhi undangan dari rekan-rekan dekat dan handai tolan. Akhirnya disepakati, aku akan ditemani oleh adik iparku yang kebetulan rumahnya hanya berjarak satu rumah dari rumahku.

“ Hawa koq sendirian ke sininya?”, tanyaku pada ponakan yang sudah berada di dalam kamarku. Namanya Hawarizmi Harfani Ar Rasyid berusia 6,5 tahun duduk di kelas 2 SDIT An Nizam Medan. Tentunya memakai nama belakang Ar Rasyid seperti aku karena bapaknya adalah adikku. “Iya…nde, Hawa duluan ke sini. Mamak masih ngeloni adek bobok,” jawab Hawa menjelaskan padaku.

“Ya…udah kalau Hawa mau tidur juga, sini naik dekat nde,” tawarku padanya demi menyadari saat itu waktunya anak-anak istirahat tidur siang. Tapi, bagaikan orang dewasa ia menjawab,”Udah nde gak usah, Hawa di sini aja. Hawa kan disuruh jagain nde. ” Aku senyum dibuatnya, lantas aku bilang, ”Nanti Hawa ngantuk kalau gak tidur,” tawarku lagi. Tetapi Hawarizmi masih tetap bertahan dengan pesan orang tuanya untuk menjagaku. Satu hal yang kudapat dari Hawarizmi yang memegang teguh pesan orangtuanya.

“Kalau gitu kita cerita aja yuk,” aku meminta Hawa untuk naik ke tempat tidur dan duduk di sampingku. Kutanyakan apa kegiatannya jika tidak sekolah seperti sekarang ini. Hawa bilang kalau gak tidur siang, dia bermain-main sendiri didalam kamar. “Main hp?,” tanyaku. “Nggak…nde, ” Hawa boleh main hp kalau hari minggu aja. Tadi pagi sudah koq.” Begitu Hawa menjelaskan kebiasaannya padaku dan peraturan yang ditetapkan untuknya.

Aku mulai menanyakan pelajarannya di sekolah, dari mulai nama guru-gurunya dan ekskul yang ada di sekolahnya. Ternyata, Hawa hafal semua nama guru-gurunya dengan baik. Itu berarti Hawa merupakan anak yang penuh perhatian terhadap gurunya. Karena banyak siswa bahkan sudah SMA pun tidak mengenal nama gurunya.

“Nanti, kalau sudah kelas 4 Hawa mau ikut ekskul dokter kecil kayak kak Syifa,” ungkapnya menyebutkan nama ponakanku yang lain. “Kenapa Hawa mau ikut ekskul dokter kecil?” tanyaku pula. “Iya…nde, Hawa mau jadi dokter,” jawabnya penuh keyakinan. Sementara itu, azan ashar berkumandang menghentikan cerita kami. “Kita sholat dulu ya, Hawa,” ajakku.

Aku pun bertayamum sementara Hawa berwudhu dan mengambil mukena di kamar belakang. Ketika Hawa masuk kembali ke kamarku, aku sedang sholat sunnat qabliyah dengan posisi duduk setengah berbaring. Terlihat Hawa pun mulai mengenakan mukena dan membentang sajadahnya. Astaghfirullah, Hawa membentang sajadah dengan arah kiblat yang keliru. Salahku tidak memberi tahu terlebih dahulu arah kiblat di kamarku. Mungkin Hawa terbawa arah kiblat di kamarnya yang membelakangi pintu sementara kiblat di kamarku mengarah ke pintu.

Cepat kuselesaikan qabliyahku dan memperbaiki arah kiblat Hawa. Selesai sholat kulihat doa Hawa sangat panjang dan tentunya ini menarik tanyaku untuknya. “Hawa doa apa aja tadi?”, aku mulai bertanya hal panjangnya doa Hawa tadi. “Hawa bilang, ya Allah berikan kesehatan untuk orang tua dan keluarga Hawa,” Hawa berhenti dan bertanya pula apakah doaku juga sama seperti doanya. “Nggak sama la, kan kakek sama nenek udah meninggal,” jawabku sambil menjelaskan apa saja isi doaku.

Ketika kami membicarakan isi doa masing-masing, anak bungsuku Rizqy pulang. “Mas darimana ?” tanya Hawa. “Mas dari USU,” jawab Rizqy. “Itu kan nama sekolah Hawa nanti,” sambung Hawa demi mendengar jawaban Rizqy yang baru pulang dari USU. “Tiap sholat Hawa selalu doa supaya bisa sekolah di USU,” tambah Hawa lagi. Aku terkejut, sejauh itu doa Hawa. Sementara saat ini dia masih duduk di kelas 2 SD.

Bagiku, meski Hawa tidak masuk kedalam 5 besar peringkat di kelasnya, namun sikap dan tingkah lakunya justru rangking 1. Sejak dini sudah tertanam didalam dirinya bagaimana mematuhi aturan yang sudah ditetapkan oleh orang tua. Dan lihatlah bagaimana Hawa berdoa bagi orang tuanya dan sudah mempersiapkan doa bagi cita-citanya kelak. Bukankah karakter seperti ini yang kita harapkan tertanam pada diri anak-anak kita? Anak yang patuh pada orang tua karena ridho Allah ada pada ridho orang tua. Anak yang senantiasa mendoakan orangg tua dan keluarganya dan berharap Allah akan mengabulkan cita-citanya. Subhanallah.

Jazakumullah khoiron katsiro, Hawarizmi yang sudah “jagain” Budhe. Budhe yakin Allah pasti mengijabah doa-doa tulusmu. Aamiin ya robbal alaamiin.

Wallahu a’lam bishawab

#edisibelajarmembacasekitar#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 5 Agustus 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Anak Sholikah kebanggan orang tua. Ikut bahagia membacanya.

06 Aug
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakumullah khoiron katsiro. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...bu.

06 Aug

Subhanalloh....anak sholeh....

06 Aug
Balas

Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakumullah khoiron katsiro. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah....bunda.

08 Aug

Ibu sakit apa? Sejak 3tahun lama nya tak pernah kami (alumni smp budisatrya t.a 2016) mendengar kabar ibu. Boleh sya minta kontak ibu? Ini wa saya bu 08566188637 .. Sehat selalu bu, berkah umur bahagia dunia akhirat amin❤️

06 Aug
Balas

Oh..., tulang kaki kanan ibu retak karena kecelakaan 2 minggu yang lalu. Alumni SMP Budisatrya, alhamdulillah ketemu di sini. Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakumullah khoiron katsiro. Ntar kita japri aja...ya. Barakallah...

08 Aug

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali