Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Sahang, Mutiara Berlumur Darah

Sahang, Mutiara Berlumur Darah

Lawatan Sejarah Nasional 2019 kali ini, dipusatkan di Kota Medan. Acara gawean Kemendikbud ini diikuti oleh 200 peserta yang terdiri dari 41 guru, 90 siswa seluruh Indonesia, dan pegawai di lingkungan Kemendikbud.

Berada di rumah IPPSU membuat penulis bertemu rombongan hebat ini. Keikutsertaan mereka telah melalui seleksi yang luar biasa. Tiap orang diwajibkan membuat karya tulis ilmiah tentunya yang berhubungan dengan sejarah ataupun ikon-ikon serta kearifan lokal dari daerah mereka masing-masing.

Menurut keterangan Bu Yuliani, guru dari SMAN 2 Sekayu Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatra Selatan yang menjadi peserta, tiap provinsi terdiri dari satu guru dan dua orang siswa. Dengan catatan mereka telah lolos seleksi melalui karya tulis ilmiah yang diikuti.

Sejak tanggal 8 Juli 2019, rombongan dari masing-masing daerah telah tiba di Medan. Rombongan menginap di LPMP Medan. Perjalanan dimulai hari ini dengan tujuan Museum Perkebunan Indonesia dan Istana Maimun Medan. Hingga tanggal 12 Juli nanti, rombongan akan berkeliling melakukan jelajah literasi di Medan.

Dari bincang-bincang dengan rombongan inilah, kutemui “Butiran Mutiara Berlumur Darah”. Mungkin, karena sesama guru komunikasi menjadi “klik” rasanya.

Dalam kesempatan berbincang tentang perkembangan literasi yang dibesut IPPSU, kami menyadari masih sangat banyak kekayaan alam Indonesia yang harus diperkenalkan melalui tulisan kepada generasi milenial. Agar mereka tak buta sejarah dan kekayaan bumi pertiwi. Dengan demikian akan menumbuhkan nasionalisme di dada mereka.

Kaitannya dengan Museum Perkebunan Indonesia yang menampilkan berbagai tanaman perkebunan, ternyata banyak diantara generasi milenial (peserta siswa) yang tidak mengenal sahang (lada). Konon pula disuruh membedakan sahang dengan ketumbar. Padahal butiran mungil ini, merupakan salah satu penyebab bercokolnya penjajah di bumi pertiwi.

Sahang menjadi primadona rempah-rempah yang diperebutkan berbagai negara eropa saat itu hingga kini. Bagaikan butiran mutiara yang diperebutkan, cerita perjalanan sahang beranjak dari bumi pertiwi dipenuhi peristiwa pertumpahan darah. Hingga saatnya, pada 17 Agustus 1945 cerita itu dihentikan, meski belum sepenuhnya.

Semoga setelah 74 tahun merdeka, sahang sang mutiara berlumur darah dapat menaikkan devisa negara. Aamiin.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisilawatansejarah#

Musperin, Kayanya Negeriku, 10 Juli 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Perhelatan akbar... Yes bun

10 Jul
Balas

Alhamdulillah, demikian Pak Guru. Jazakallah khoir untuk kunjungannya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah.

10 Jul

Kegiatan literasinya kok keren sih, jadi ingin ikut haha...tapi jauh...dah ngiler aja hehe...Memang apa pun yang ditulis Dindaku ini selalu asyik disimak sampai tuntas. Amin, semoga devisanya terus meningkat. Oke, salam sehat dan sukses!

10 Jul
Balas

Alhamdulillah, Mbakku. Lawatan Sejarah Nasional, gawean kemendikbud yang kebetulan tahun ini dipusatkan di Medan. IPPSU cuma ndompleng, Mbak. Mumpung ada kesempatan ada gawean akbar. Ketemu guru-guru dan siswa hebat seluruh nusantara. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan apresiasinya, Mbak. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Srikandi Dieng.

10 Jul

Mantaps kali, jelajah Literasinya Kak. Owh sahang itu lada yah Kak. Wah aku pun sering tertukar antara lada dan ketembar, hehehe. Teruntai doa untuk Kakakku tercinta agar tercurah rahmat Allah terlimpah untuk kesehatan Kakak dan barakallahu fiik

10 Jul
Balas

Iya..., Deq. Sahang sama dengan lada atau merica, yang bikin penjajah datang ke sini. Padahal, lada dan ketumbar meskipun sama-sama bulat kecil, warna dan tekstur kulitnya beda. Jazakillah khoir untuk kunjungannya, Deq. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Deqquuu.

10 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali