Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Senandung Hati yang Terluka (2)

Senandung Hati yang Terluka (2)

Pada episode sebelumnya diceritakan bahwa Doni memohon izin pada Rima istrinya, untuk menikah lagi. Rima mengizinkan permintaan suaminya dengan syarat Doni harus menyeraikan Rima.

Meski terlihat tenang, ternyata hati Rima seakan remuk redam. Tidak pernah selama 27 tahun pernikahannya Rima melangkahkan kakinya keluar rumah setiap kali mereka bertengkar. Tapi, hari itu dia tidak kuat menahannya. Rima pamit pada anak-anak dan suaminya untuk menginap di rumah ibunya dengan alasan untuk menemani ibunya yang memang tinggal sendiri. Sepeninggal Rima ternyata anak-anak mereka yang memang sudah besar-besar “mengadili” ayahnya, Doni. Di rumah ibunya, Rima mengumpulkan semua kelurga baik kelurganya dan juga keluarga Doni.

“Ayah, sebaiknya memang ayah tinggalkan saja ibu kami,” Rangga sebagai anak tertua memulai pembicaraan antara ayah dan anak. “Rangga sudah dewasa, ayah. Rangga juga laki-laki seperti ayah. Kasihan ibu,” terdengar Rangga mulai tegas suaranya. “Ayah ingat 9 tahun yang lalu ketika Rangga masih SMA dan ayah menikah siri dengan perempuan lain? Kalau tidak karena teman-teman Rangga yang menghalangi, perempuan itu sudah Rangga habisi.” semakin meninggi suara anak laki-laki tertua Rima itu. “Rani juga sudah capek mendengarnya, ayah. Ini untuk yang ke berapa kali ayah?” kini giliran Rani yang mencoba menyentuh hati ayahnya. Doni hanya terdiam mendengarkan ucapan kedua anaknya. Disamping Rani, Tia si bungsu dengan lugunya berkata, “Ayah, Tia lihat di televisi ada yang mati terbunuh karena selingkuh. Ayah mau seperti itu,” Doni sungguh tidak menyangka jika si bungsu yang duduk di kelas 3 SMA berkata seperti itu. Doni benar-benar kelabakan dibuat mereka dan dia ingat apa yang dikatakan Rima ketika berbuat yang sama beberapa tahun yang lau, “Mas…, jangan sampai anak-anakmu yang akan menghancurkan dirimu.”

Sementara itu, di rumah ibunya Rima juga tengah berlangsung pertemuan dua keluarga. Keluarga Rima dan keluarga Doni. “Kak, kami mohon jangan tinggalkan abang kami. Kami yakin hanya kakak perempuan satu-satunya yang bisa memeluluhkan hati abang kami,” adik Doni mencoba untuk menembus pertahanan hati Rima. “Kalian tahu bagaimana abang kalian. Maka biarkanlah sekarang ini kakak memenagkan hati kakak sendiri. Sudah tidak ada cinta lagi di hati kakak untuknya. Yakinlah kalian, do’a kakak untuk ayah dan ibu kalian tidak akan pernah kakak putuskan meskipun kakak bukan lagi menantunya.” Didalam do’a-do’anya Rima memang tidak pernah lupa menyebutkan kedua orang tua Doni yang sudah tiada. Karena Rima beranggapan hal itu merupakan kewajiban Doni sebagai anaknya. Karenanya Rima juga merasa itu kewajiban baginya untuk selalu berbuat baik kepada kedua orangtua Doni meskipun telah tiada.. Semua adik-adik Doni tahu hal itu karena Rima memang selalu baik terhadap keluarga mereka.

Adik Doni juga sudah pernah menemui perempuan yang akan dinikahi Doni dan mengatakan, “Tak ada perempuan yang bisa tegar menghadapi abang kami kecuali istrinya, kak Rima. Menjauhlah dari abang kami. Karena semua ini hanya sementara saja, kau pasti akan ditinggalkannya,” adik Doni mencoba meyakinkan perempuan itu untuk meninggalkan Doni. Namun ntah apa yang ada didalam pikirannya, perempuan itu masih saja berkeinginan untuk tetap menikah dengan Doni yang jelas-jelas memiliki perbedaan usia yang sangat jauh. Bagi keluarga Rima sendiri, mereka menyerahkan semuanya pada keputusan Rima. Namun sebagai ibu, ibunya Rima ternyata memilikipemikiran yang berbeda.

BERSAMBUNG...

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 4 juli 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Caerita selanjutnya, ditnggu

04 Jul
Balas

Caerita selanjutnya, ditnggu

04 Jul
Balas

Alhamdulillah, jazakillah khoir....ibu. Monggo ditunggu kelanjutannya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

05 Jul

Jadi penasaran..lanjut bun

04 Jul
Balas

Monggo ditunggu kelanjutannya ya bunda. Jazakilla khoir. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

04 Jul

Ditunggu lanjutannya Bunda!

04 Jul
Balas

Alhamdulillah , jazakallah khoir. Monggo ditunggu...pak guru. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

05 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali