Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya

Senandung Hati yang Terluka (4)

Meski semua keluarga mendukung pemikiran Rima untuk berpisah dari Doni. Tetapi ibu, menasehati Rima agar terus mempertahankan suaminnya yang penuh dengan kesalahan itu. Meski Rima menjelaskan bagaimana sakit hatinya, ibunya Rima tetap mengharapkan agar Rima bisa tetap bersama Doni.

Malam itu Rima tidak bisa memejamkan mata sedikitpun. Wajah keempat anaknya terlukis jelas di langit-langit kamar. Nasehat ibunya terngiang kembali dengan jelas di telinganya. Perbuatan Doni selama 27 tahun perkawinan mereka pun kembali mengaca. Tidak bisa disangkalnya bahwa pernikahan yang dibinanya bersama Doni karena rasa cinta yang teramat kuat yang ada didalam hatinya. Tetapi mengapa jadi seperti ini ?

Membina keluarga yang sakinah mawaddah warahmah merupakan cita-citanya. Itu sebabnya Rima selalu berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. Pertengkaran-pertengkaran didalam mengarungi bahtera rumah tangga berhasil Rima selesaikan dengan baik dan tertata apik di setiap ruang hatinya menjadi suatu kenangan pahit yang seringkali muncul didalam memori ingatannya.

Apakah sekarang ruang hatinya sudah penuh sehingga tidak lagi mampu menampung kesalahan-kesalahan Doni ? Mengapa Doni tega mempermainkan rasa cinta dan kepatuhan Rima ? Atau memang Doni yang tidak memiliki rasa cinta dan kasih kepada Rima ? Tetapi kenapa Doni begitu cemburu dan selalu mencurigai semua langkah Rima ? Bukankah ini karena rasa cinta ? Ntahlah, begitu banyak pertanyaan yang mengelilingi benak dan menggelayuti hatinya.

Astaghfirullah…,” gumam Rima. Dia menyadari betul kekalutan pikiran akan “berdampak tidak baik bagi keputusan yang akan diambilnya. Bergegas bangkit dari tempat tidur dan berwudhu berhasil dilakukan Rima. “Allah sebaik-baik tempat mengadu,” itu selalu diyakininya. Rima pun bersegera menghambakan diri pada sang Maha Rahmaan dan Rahiim.

Dalam pengaduannya kepada sang Khaliq yang Maha bijaksana, Rima setulus hati berharap agar Allah SWT senantiasa membimbing semua keputusan yang akan diambilnya, “ Ya Allah ya Robb yang maha pengampun, dengan rahmaan dan rahiimMu ampunilah segala dosa dan kesalahan kami. Kumohon ya Robb, jangan tinggalkan kami. Teruslah jaga dan bimbing hati kami agar kami tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak Engkau sukai ya Robb. Ya Allah, Engkau yang maha mengetahui segala sesuatu sehingga akupun meyakini Engkau akan memberi petunjuk bagi kesalahan dan permasalahan yang kami hadapi. Ya Allah yang maha bijaksana, tanamkan didalam hati dan pikiranku bahwa yang terjadi pada kami adalah takdir terindah untukku. Ya Allah yang maha perkasa, berikan kekuatan padaku untuk bisa menerima semua takdir yang Engkau gariskan untukku.”

BERSAMBUNG...

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 7 Juli 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Tidak mengapa Bu, saya malah senang dengan komentar Bu Eko. Apalagi saya dengan ilmu menulis yang "asal comot" saja, dan bermodal nekat Bu Eko. Nah, ada yangmemberi komentar seperti Mas Bonari dan Bu Eko ini rasanya luar biasa banget dan saya sangat berterima kasih. Dari sinilah saya banyak belajar. Jazakillah khoir, ya Bu. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah. Saya edit seperti itu bagaimana Bu Eko dan Bu Nana?

07 Jul
Balas

Alhamdulillah, jazakillah khoir...bu Romdiyah Kimbar. Maaf ya bu, telat membalasnya. Jadi semakin "manis" tulisan saya karena diedit oleh bu Rom. Sekali lagi, jazakillah khoir. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

09 Jul

Tanggapan bapak Bonari Nabonenar tepat, memang di gurusiana ini masih ada beberapa postingan yang penulisan judulnya masih terdapat kesalahan. Misalnya, judul ditulis dengan huruf kecil semua. Tiap awal kata pakai huruf kecil. Kadang juga penulisan kata penghubung pada judul yang ditulis dengan huruf besar. Demikian juga penulisan kata depan "di" dan awalan "di" yang terbalik penulisannya. Artinya pemahaman antara "di" awalan dan "di" kata depan belum ada. Kapan harus dipisah "di" sebagai kata depan atau digandeng,"di" sebagai awalan masih kesulitan. Tapi saya juga masih sering kurang cermat dalam penulisan. Mungkin pengaruh nulis cepat menggunakan hp ya kadang hurufnya suka melompat atau salah mencet hehe... Itulah perlunya kita saling mengoreksi.. bu Nana, maaf ya numpang curhat.

07 Jul
Balas

Tidak mengapa bu, saya malah senang dengan komentar bu Eko. Apalagi saya yang memang ilmu menulisnya "asal comot" saja, modal nekat bu Eko. Nah, ada yang komentar seperti mas Bonari dan bu Eko ini rasanya luar biasa banget dan sangat berterima kasih. Disinilah saya banyak belajar. Jazakillah khoir...ya bu. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

07 Jul

Penulisan judul yang tepat! Saya lihat banyak teman lain di sini, yang akan menuliskan judul tersebut begini: "Senandung Hati Yang Terluka" Kata sambung pada judul tidak ditulis dengan awal huruf kapital: |tentang| sedangkan | sampai | sehingga | dengan | dan | tetapi | meskipun | ... dan sebagainya.

07 Jul
Balas

Alhamdulillah, jazakallah khoir...mas. Izinkan saya menjura. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

07 Jul

Menjura itu apa ya bu?

07 Jul

Oh..,menjura itu memberikan salam hormat , bu Eko.

07 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali