Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Sesungguhnya Jihad Terbesar adalah Menaklukkan Diri Sendiri
Muhammad Fathur Ridho (anak penulis) bersama gajah dalam penelitiannya. (Dokumen pribadi)

Sesungguhnya Jihad Terbesar adalah Menaklukkan Diri Sendiri

Tak pernah terlintas dalam benakku jika anak lanangku ini memilih jurusan yang berakrab ria dengan hewan. Sejak kecil, tak ada petunjuk ke arah itu. Kecuali hanya rasa kasih sayangnya pada kucing yang ada di rumah. Hingga suatu hari ia menangis karena kucing tersebut menghilang.

Ketika akhirnya ia benar-benar diterima di Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah Aceh Darussalam, aku masih berfikir jika ia hanya terbawa emosi karena menyayangi si pussy belaka.

Itu sebabnya aku terkejut luar biasa ketika ia mengirimiku foto masa-masa orientasi di kampus. Dengan bangga ia tunjukkan ular phyton besar yang meliliti sebagian tubuhnya. Hiii..., aku yang memang paling anti dengan reptil itu, spontan mencampakkan android dari tanganku. Astaghfirullah.

Sangat jauh dari bayanganku dengan style yang ditunjukkannya sejak kecil. Pembawaan yang rapi dan bersih, tak pernah lepas darinya. Ditambah lagi fashionable. Kini, ia katakan padaku bahwa ia sangat tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan konservasi hewan. Melindungi satwa-satwa itu dari kepunahan.

Seterusnya, foto-foto bersama satwa langka pun bergantian menghiasi profil wa-nya. Hanyut anakku dalam keakrabannya dengan mahluk ciptaan Allah yang butuh perlindungan itu. Kulihat, betapa bahagianya ia bisa menaklukkan hewan yang nenek moyangnya pernah menjadi pasukan Abrahah nan sombong.

Kuamati foto itu. Dia pasti sudah belajar bagaimana menaklukkan hewan besar yang namanya diabadikan sebagai nama salah satu surat di dalam Al quran, yaitu Al Fiil (gajah). Kukatakan pada anakku, sesungguhnya perjuangan terberat adalah menaklukkan diri kita sendiri. Ketika seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu di dalam diri, maka ia baru saja memenangkan jihad terbesar.

Sebagaimana dikisahkan dalam suatu riwayat. Sekembalinya dari sebuah pertempuran, Nabi Shalallahu alaihi wasallam berkata, “Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar. ” Sambil terperangah, para sahabat bertanya, “Apakah gerangan perang terbesar itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, perang menaklukkan diri sendiri.” (HR Baihaqi )

Dalam kisah lain diceritakan tentang Ali bin Abi Tahlib yang memiliki kepribadian agung. Ali bin Abi Thalib merupakan sosok pemuda yang harus diteladani oleh generasi milenial. Kekuatan yang dicontohkan Ali bin Abi Thalib dalam menaklukkan dan mengatur emosi diri sungguh luar biasa.

Diceritakan dalam suatu peperangan yang berlangsung sengit, Ali bin Abi Thalib nan muda dan perkasa berhasil menjatuhkan lawannya. Dengan sigap Ali langsung menghunus pedang siap memenggal lawannya. Pada saat yang genting itu, dengan penuh kebencian musuh sempat meludahi wajah Ali bin Abi Thalib. Mungkin, di dalam fikirannya ia puas bisa memuntahkan kebenciannya pada Ali di saat terakhir hidupnya. Namun, sikap Ali membalas perlakuan itu membuat musuhnya itu justru mengucapkan syahadat. Apa yang dilakukan Ali? Menerima perlakuan itu, Ali justru mengurungkan niatnya memenggal leher musuhnya yang sudah tidak berdaya itu. Dengan penuh keheranan, musuh itu bertanya, “Mengapa engkau tidak jadi membunuhku?” Ali pun menjawab, “Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin membunuhmu karena Allah. Tetapi karena engkau meludahiku, niatku membunuhmu bukan karena Allah, melainkan karena nafsu amarahku kepadamu.”

Masyaallah, betapa Ali sangat menjaga hatinya dan mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan baik. Bahwa apapun yang dilakukannya, hanya karena Allah semata.

Kemampuan Ali bin Abi Thalib dalam mengendalikan diri, mencerminkan kepribadian yang mulia dan agung. Hal inilah yang membawanya mendapat tempat terhormat baik di dalam keluarga Rasulullah dan juga diantara para sahabat.

Sesungguhnya, orang-orang yang mampu mengendalikan dirinya, akan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bishowab.

#edisimuhasabah#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 5 Ramadhan 1440 H / 10 Mei 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Setuju Bun, justru musuh terbesar umat manusia ada di dalam dirinya. Salam buat anak lanang salut dengan kecintaannya pada satwa. Salam bahagia buat Bunda n Abah.

10 May
Balas

Semoga bisa menaklukkan diri kita sendiri. Jazakallah khoir untuk kunjungan dan salamnya, Pak Guru. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah.

11 May

Aku pun takut ular, lebih takut ulat. Asyiknya baca tulisan Kakak, tak terasa dibawa pada kisah sahabat Ali. Teruntai doa untuk Kakakku tercinta agar tercurah rahmat semoga Kakak diberi kesehatan dan barakallahu fiik

10 May
Balas

Semoga kisah Ali bisa menginspirasi kita, ya Deqquuu. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doa yang terus mengalir. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Deqquuu.

11 May

Sangat sulit untuk menaklukkan diri sendiri Uthi Rai....Masih terus berusaha walau sulit..Terima kasih tulisannya yang inspiratif ...Barakallah Uthi Rai ...

11 May
Balas

Meski sangat sulit, insyaallah kita bisa. Bismillah. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doanya, Budhe Rini. Salam sehat, bahagia dan sukses selalu. Barakallah, Budhe Rini.

11 May

Benar Mbah Uthi, itu Rasul sampaikan ketika kembali dari perang yang besar yaitu perang badar. Yang saat itu jumlah umat Islam hanya 300 melawsn 1000 Allah memberikan kemenangan. Tapi jrustru Nabi menyebutnya perang kecil . Kita akan menghadapi perang yang lebih besar, itulah memerangi hawa nafsu kita. Latihannya adalah puasa. Mempuasakan perut, mata, telinga ,hidung, mulut, dan hati kita.Itulah Jihadul Akbar. Barakallah Mbah Uthi sehat selalu

10 May
Balas

Semoga kita bisa lulus dari jihad akbar. Jazakallah khoir untuk kunjungan dan doanya. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Mbah Buya.

11 May

Setuju sekali bun, mengendalikan diri dan hati itu ujian terberat, kembali kepada pribadi masing-masing, kisah yang sangat memotivasi, sehat selalu nin, Barakallah

10 May
Balas

Semoga kita mengendalikan diri dan hati dengan lebih baik. Berlatih terus, karena ujiannya sering datang tiba-tiba. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan apre├čiasinya, Bunda Anies. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Bunda.

11 May

Bahkan terkadang tanpa sadar diri sendiri (Super Ego) menjadi tuhan, Kita menuruti nafsu makan saat berbuka melebihi kebutuhan, enggan sholat, ngantuk saat sholat malam tak jarang kita perturutkan. tulisan yang menggugah, semoga sukses selalu mengiringi langkah bunda

11 May
Balas

Banyak ranah yang bisa menumbuhkan dengan subur keegoan kita. Sepanjang hari dan setiap saat. Semoga kita bisa mengendalikan ego kita dengan baik. Jazakallah khoir untuk kunjungannya, Pak Gupres. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Pak.

11 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali