Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Sulaman Takdir Terindah dari Allah (2)

Sulaman Takdir Terindah dari Allah (2)

“Ya...udah ntar Umi buatin jus tomat dan kacang panjang supaya kadar gula darah Abi turun,” demikian ucap perempuan beraroma melati itu ketika mengetahui kondisi kesehatan Abinya DaRa. Dia memang sangat menyayangi lelaki itu. Dia bilang, “Abi tidak boleh sakit.” Berselancar di dunia maya untuk mempelajari menu makanan sehat menjadi kebiasaannya agar bisa memberikan menu sehat bagi Abinya DaRa. Maka dia sangat faham apa yang tidak dan boleh dikonsumsi Abi bahkan juga apa yang Abi suka dan tidak suka.

Ketika hatinya terpaut pada lelaki yang sudah menikah itu, awalnya dia merasa ini hanyalah keisengan seorang lelaki yang sudah beristri. Namun ceritanya menjadi lain ketika perempuan beraroma melati itu diperkenalkan Abi pada mbahnya DaRa. Menjadi lain dan aneh karena dia justru sangat diterima didalam keluarga itu. Ataukah ketidak harmonisan didalam keluarga Abi menjadi alasannya? Dia pun tidak mengerti. Semua berjalan begitu saja hingga ada DaRa bahkan sampai akhirnya DaRa tiada.

Perempuan beraroma melati itu duduk di tempat tidur DaRa yang selalu dijaga rapi oleh si mbah. Ditangannya tergenggam surat yang dulu ditulis DaRa untuknya. “DaRa…, ma’afkan Umi,” lirih suaranya mengalir diantara butiran bening yang menyeruak dari kelopak matanya. Dikuatkannya hati membaca ulang surat yang ditulis oleh buah hatinya waktu itu.

Abi, Umi, Aku bukan anakmu

Dimana Umi…, ketika aku terbangun dengan rasa takut di tengah malam pekat ?

Dimana Umi…, ketika aku merasakan dingin yang menggigit tubuh hingga ke sum-sum ini ?

Dimana Umi…, ketika aku menahan lapar ketika tak satu pun makanan yang ada mampu menggugah rasaku?

Dimana Umi…, ketika aku harus merapikan pakaianku ketika aku akan ke sekolah?

Dimana Umi…, ketika aku membutuhkan kelembutanmu untuk menemaniku menyelesaikan tugas-tugasku ?

Umi…, kau tak pernah ada seperti asaku.

Dimana Abi.., ketika aku butuh perlindungan dan dekapan hangat dari seorang ayah ?

Dimana Abi…, ketika aku harus mencari sendiri segala yang kubutuhkan meski dengan uang darimu.

Dimana abi…,ketika aku juga ingin diantar ke sekolah seperti teman-teman

Dimana Abi…, ketika aku membutuhkan kekuatanmu untuk membantuku menyelesaikan tugas-tugasku ?

Abi…,kau tak pernah ada seperti asaku.

Abi…, Umi…, Aku bukan anakmu.

Butiran bening terus saja bersusulan mengalir menganak sungai membasahi pipinya. “Sudahlah Umi,” si mbah yang ternyata sedari tadi memperhatikan Umi dari pintu kamar DaRa mencoba memberikan kekuatan padanya. “Ikhlaskan DaRa, Mi,” tambah si mbah pula meski dengan suara yang jelas terdengar bergetar karena juga menahan tangis. Astaghfirullah, Uminya DaRa segera menyadari semuanya. Tanpa berkata apapun dia segera berwudhu, shalat sunnah dua rakaat menjadi pilihannya untuk dapat menenangkan diri. Di sisi tempat tidur DaRa , perempuan beraroma melati itu kembali melantunkan bait-bait suci surah Ar Rahmaan yang pernah dibacakannya ketika DaRa terluka hatinya, dulu. Perlahan diapun dapat merasakan ketenangan demi membaca bait-bait indah itu. Diapun mulai bisa berfikir jernih kembali.

Dituliskannya didalam hati, inilah sulaman takdir terindah dari Allah untuknya. Dia harus mulai terbiasa tidak lagi memasakkan “menu sehat” untuk Abi dan mengingatkannya segera makan di sela-sela kesibukannya. Tidak lagi saling mengingatkan untuk shalat di awal waktu, bahkan memikirkannya pun tidak boleh. Kehidupan masing-masing harus mereka jalani dengan baik. Dengan berat hati, ditinggalkannya rumah perempuan sepuh yang mengurusi DaRa dulu. Hatinya tertinggal disitu.

#edisikuatkanhati#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 6 juni 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ceritanya cair, mengalir deras bu. Ada sisipan pesan yang bagus dan dalam agar kita kembali mendekat kepada-Nya. Dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan shalat sunah untuk menenangkan diri. Luar biasa bu, terima kasih terus berbagi kebaikkan.

06 Jun
Balas

Alhamdulillah, jazakillah khoir. Seharusnya begitu...njih Bu ? Bu Eko koq sudah lama gak muncul di gurusiana ? Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Jun

Oh..ini kelanjutannya daRa Fatia ya bun ? Maaf baru baca seri keduanya

06 Jun
Balas

Bisa juga begitu....bunda. Alhamdulillah , ini menceritakan keadaan pasca DaRa tiada. Jazakillah khoir....bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali