Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Sulaman Takdir Terindah dari Allah (4)

Sulaman Takdir Terindah dari Allah (4)

“Yang terpenting, sekarang mbak yang harus jaga kesehatan. Kami disini semua sehat-sehat saja,” demikian Nining menyemangati mbaknya yang sejak sepeninggal DaRa selalu saja sakit. Dalam hitungan satu purnama saja, perempuan beraroma melati itu berulang kali sakit. “Sekarang ini, mbak sudah makan?” lanjut Nining menyelidiki hal berulangnya sakit yang dialami mbaknya itu. Agak ragu perempuan itu menjawab takut disalahkan karena memang saat itu sudah menunjukkan pukul 2 siang tetapi dia belum juga makan. Padahal selama ini Nining tahu mbaknya tidak seperti itu. Bahkan selalu memperhatikan pola makan abinya DaRa.

Si mbah pun bisa merasakan sakitnya perempuan itu. Sebagai orang tua, mbahnya DaRa memahami apa yang sedang berkecamuk didalam pikiran umi. Tapi si mbah pun tidak pula bisa memaksakan perempuan itu untuk bisa berubah dengan cepat. Biarlah waktu yang membawa semua pemikirannya. Tiap kali perempuan itu mengunjungi mbahnya DaRa, tiap itu pula si mbah harus menguatkannya. Perlahan si mbah seolah ingin membukakan matanya bahwa semuanya sudah berubah, “Umi harus bisa dan kuat dengan semua ini,” si mbah selalu berkata begitu.

Namun demikian, si mbah pun tidak pernah tega untuk tidak memenuhi keinginan umi agar si mbah memasangkan seprei kenangannya bersama DaRa. Tiap kali umi berkunjung, umi ingin seprei itu terpasang di tempat tidurnya DaRa. Didalam hati si mbah, “Sampai kapan, umi….?” Perempuan itu pun bisa merasakan pertanyaan yang tidak terlontar dari lisan si mbah. Dia pun hanya diam, tak pernah bisa mengerti kapan semua ini akan berakhir.

#edisikuatkanhati#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 6 Juli 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kisah tentang perempuan, dituis oleh perempuan. Benar-benar seperti peristiwa nyata. Ditunggu kelanjutannya, Bu.

06 Jul
Balas

Kisah tentang perempuan, ditulis oleh perempuan, dibaca oleh laki-laki dan perempuan, agar bisa menjadi ibrah....njih pak kepala sekolah ? Monggo ditunggu kelanjutannya pak. Jazakallah khoir, salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Jul

Bagus bu, cuma nulisnya Si Mbah kenapa dipisah. Bukannya simbah itu berarti kakek? Maaf, mungkin bu Nana punya alasan lain?

06 Jul
Balas

Nah ini dia, yang aku suka. Kita orang jawa menyebut simbah yang berarti kakek atau nenek. Tetapi bu, ternyata didalam PUEBI penulisannya dipisah. Di novel saya "DaRa Fathia" mbak editor juga menuliskannya terpisah begitu bu. Inilah mantapnya di gurusiana kita jadi banyak belajar. Jazakillah khoir....njih bu Eko. Saya senang sekali dengan komen bu Eko. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali