Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Ternyata Tidak Semudah yang Dibayangkan ( Refleksi Upacara Hari Guru )
Sumber : Flickr

Ternyata Tidak Semudah yang Dibayangkan ( Refleksi Upacara Hari Guru )

Upacara memperingati Hari Guru Nasional 2018 menyisakan banyak cerita yang dapat dijadikan bahan refleksi bagi diri ini. Di seluruh sentero negeri , upacara inipun digelar dengan guru-guru sebagai pelaksana upacaranya.

Para guru yang biasanya “duduk manis” menyaksikan jalannya prosesi upacara, pada hari ini harus berjibaku menunjukkan kemampuan dan kapasitas diri di hadapan puluhan, ratusan bahkan ribuan tatapan mata siswanya.

Bukan tidak sedikit pula sekolah yang melaksanakan upacara Hari Guru ini tetap menampilkan siswa sebagai pelaksana upacara. Apapun itu semua bisa diambil nilai positifnya saja. Bukankah kehebatan siswa merupakan tulisan karya terhebat dari prestasi gurunya ?

Ternyata menjadi pelaksana upacara tidak semudah yang dibayangkan, meski setiap Senin menyaksikannya. Serasa mudah dan biasa saja. Bahkan mata ini sudah sangat jeli bisa menemukan kesalahan yang terjadi dan dari lisan inipun dengan ringan meluncur komentar untuk sebuah kesalahan seakan sangat paham bagaimana cara yang benar.

Tulisan ini bukan untuk menguraikan kesalahan yang terjadi ketika guru menjadi pelaksana upacara di hari ulang tahunnya sendiri. Tetapi lebih kepada bahan refleksi bagi diri ini untuk memahami sekaligus membenahi kesalahan-kesalahan yang terjadi pada siswa ketika mengemban tugas sebagai pelaksana upacara.

Tanpa sadar, dengan mudah kita menyalahkan siswa ketika terjadi “insiden” yang tidak diinginkan saat upacara dilaksanakan. Menuduh mereka kurang persiapan dan latihan, serta banyak kalimat-kalimat yang menyudutkan mereka atas terjadinya kesalahan itu.

Padahal, sesungguhnya tampil di depan umum bukan hanya membutuhkan kesiapan fisik namun juga kekuatan mental yang cukup. Bukan tidak sedikit anak-anak yang sudah latihan tetapi terserang nervous yang amat sangat ketika harus tampil, maka terjadilah kesalahan itu. Ditambah bumbu “omelan” , maka bagaikan kuncup yang tersiram air panas, dia takkan tumbuh lagi. Semakin bertambah “pilu” karena anak-anak ternyata sering latihan sendiri tanpa perhatian dan bimbingan dari gurunya. Duuh.

Bagaimanakah ketika guru menjadi pelaksana upacara ? Benarkah tidak ada kesalahan yang terjadi ? Tak adakah getar di dalam suara yang menggambarkan ada nervous yang melanda diri ? Jawabannya ada di dalam diri masing-masing.

Semoga semua bisa kita ambil hikmahnya. Mari kita selalu dampingi dan semangati anak-anak kita agar bisa menampilkan yang terbaik. Membimbing mereka agar bersungguh-sungguh berlatih dan menguatkan mereka untuk tiap kesalahan yang terjadi. Karena kita sudah merasakan semuanya tidak semudah yang dibayangkan.

Wallahu a’lam bishowab

#edisihgn#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 27 November 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Upacara hari guru, maka petugasnya guru. Itu terjadi hampir di semua sekolah, meski sampai sekarang belum Ayu temukan argumen jelasnya. Semoga karena niat keteladanan yang harus ditunjukkan oleh guru pada siswanya. Tetapi terkadang justru menjadi bahan tertawaan siswa, saat tak sengaja terjadi kesalahan karena faktor umur yang tak bisa lagi ditoleransi. Ibrah yang bisa kita ambil adalah agar kita para guru menjadi pribadi yang mudah memaafkan kesalahan siswa, lebih menghargai proses daripada hasil, dan mengedepankan pendekatan persuasif dalam menangani ketakmampuan siswa dalam mengerjakan tugasnya. Guru juga manusia, tetapi manusia pilihan dengan selaksa kemampuan yang tersematkan meski terkadang kitapun tak bisa lakukan semuanya.

27 Nov
Balas

Guru juga manusia dengan selaksa kemampuan yaƱg tersematkan meski terkadang kitapun tak bisa lakukan semuanya. Karena itu dengan kebijaksanaan yang harus dimiliki seorang guru sejatinya dapat menerima kesalahan yang dilakukan siswanya. Membimbing dan mengarahkan mereka untuk menjadi lebih baik merupakan kewajiban yang ada di pundak sang guru. Jazakillah khoir untuk kunjungannya yang arif. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bu guru.

27 Nov

Bahkan ketika guru menjadi petugas upacara "nervous" pun tetap ada. Hal yang wajar bagaimanapun juga manusia tidak ada yang sempurna. Pun seorang guru, yang notebene selalu mengajari siswa. Barakallah bunda

27 Nov
Balas

Alhamdulillah, semoga kita menerima kesalahan yang kerap dilakukan siswa karena tidak ada yang sempurna. Kewajiban kita berusaha dan berdoa sambil berjalan menuju ke arah kesempurnaan itu. Jazakillah khoir untuk kunjungannya, bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

27 Nov

Benar kak, aku blm pernah jadi petugas upacara tuh. Memang menilai dan cenderung menyalahkan lebih mudah. Sejatinya membimbing para siswa dlm tiap kegiatan merupakan keniscayaan. Teruntai doa utk kakakku tercinta smoga Allah limpahkan rahmatNya agar kk selalu diberikan kesehatan. Amin

27 Nov
Balas

Menjadi penilai sejatinya tidak hanya menemukan kesalahan tetapi juga bisa memperbaiki kesalahan sehingga tidak terulang dan menjadi lebih baik lagi. Jazakillah khoir untuk kunjungan dan doanya. Salamo sehat dan sukses selalu. Barakallah, deq.

27 Nov

Tulisan sebagai refleksi diri, terimakasih bunda Rai. Hal paling mudah adalah melihat kesalahan dan kekhilafan orang lain dan yang paling sulit adalah memposisikan diri terhadap kesalahan orang lain. Sukses dan sehat selalu bun, barakallh.

27 Nov
Balas

Alhamdulillah, bu guru hadir juga di sini. Jazakillah khoir untuk kunjungan bu guru. Hanya goresan kecil untuk introspeksi diri. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bunda.

27 Nov

Begitulah Bunda...empati..empati..empati..tak terkecuali kepada siswa..Mencoba memposisikan diri ketika berada pada posisi yang sama...Mantafff..Semoga banyak para guru yang membaca ini..Salam sehat dan sukses selalu..Barakallah..

27 Nov
Balas

Njih bunda, hanya mengingatkan diri sendiri yang sering gampang menyalahkan siswa. Jazakillah khoir untuk bunda yang selalu berempati pada tulisan saya. Tanpa empati bunda apalah artinya tulisan ini. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, bunda.

27 Nov

Pernah lihat siswa salah tapi sudah berusaha dan mau melaksanakan tanggung jawab itu sudah bagus...Mksh, bun sebagai pengingat kita.

27 Nov
Balas

Tugas kita memperbaiki kesalahan yang mereka buat. Senantiasa membimbing dan mengingatkan. Jazakillah khoir untuk kunjungan bunda. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

27 Nov

Penonton akan mudah mencaci maki pemain yang melakukan kesalahan... Padahal kalau menjadi pemain belum tentu dapat melakukannya.... Salam sukses selalu

27 Nov
Balas

Bahkan penonton bisa lebih berdarah-darah dari pemainnya. Betul tu pak guru, lha wong mencari 11 orang pemain sepak bola yang bisa ikut piala dunia dari ratusan juta lelaki Indonesia, sulit. Padahal kalau nonton komentarnya sampai lapisan langit yang ke 7...hehehe. Jazakillah khoir untuk kunjungannya, pak guru. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

27 Nov

Akankah kita akan menjadi penonton abadi kesuksesan orang lain..kira2 apa penyebabnya ya?

28 Nov

Mungkin, salah satu penyebabnya "lapangan pekerjaan yang sulit". Lhaa....wong di sana, mereka hanya memikirkan bagaimana "berlatih jadi yang terbaik" tidak perlu memikirkan makan atau tidak. Sementara di negeri tercinta, disamping latihan yang keras ditambah pula harus menaklukkan kehidupan yang keras jika ingin terus hidup. Tidak sedikit atlit yang hidupnya susah setelah lewat masa kejayaannya. Penyebab yang lain, karena memang keinginan untuk maju masih sangat rendah di dalam diri. Terlanjur asyik dalam zona nyaman. Aduuh...ini omelan emak-emak di pagi hari. Maaf jika tidak berkenan.

28 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali