Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Tidak Ada yang Dibawa
Praktek Memandikan dan mengafani jenazah

Tidak Ada yang Dibawa

Hari ini tanggal 6 Juni 2018 bertepatan 21 Ramadhan 1493 H, kegiatan Tarbiyah ramadhan di SMP Budisatrya Medan diisi dengan materi Fiqih janaiz. Materi ini dibimbing oleh bapak Drs. Supardi Lubis yang selain sebagai guru agama Islam di Budisatrya tetapi juga memang sebagai bilal mayat di masyarakat.

Pak ustadz menjelaskan dengan rinci bagaimana keadaan seseorang dari mulai sakratul maut hingga bagaimana kewajiban muslim atas muslim yang lainnya. Keadaan sakratul maut sangat menyakitkan. Seringan-ringannya sakratul maut seperti kambing yang dikuliti. Maka tidak ada yang dapat meringankan sakitnya kecuali amal ibadah seseorang.

Ketika seorang muslim meninggal dunia maka kewajiban bagi muslim yang lainnya untuk memandikan, mengafani, menyolatkan dan menguburkannya. Kewajiban ini disebut sebagai fardhu kifayah. Yaitu kewajiban yang dituntut kepada orang banyak. Artinya jika sudah ada beberapa orang yang melaksanakan kewajiban ini, maka terlepaslah kewajiban bagi yang lain. Sebaliknya jika tidak ada yang melaksanakannya maka semua akan menanggung dosanya.

Keterangan yang sangat menarik dari apa yang disampaikan pak ustadz ketika memandikan jenazah adalah sebaiknya orang yang memandikan adalah orang-orang yang amanah. Karena keadaan mayat berbeda-beda disebabkan sakitnya dan seringkali dapat menimbulkan fitnah. Sangat baik jika yang memandikannya adalah anak-anak ataupun keluarga si mayat. Bilal mayat hanyalah sebagai pembimbing dan penuntun saja.

Tetapi pada kenyataan sangat jarang keluarga yang bisa/mau memandikan anggota keluarga yang meninggal. Materi fiqih janaiz dalam tarbiyah ramadhan kali ini bertujuan agar para siswa dapat memahami bagaimana pentingnya hal ini dan kemudian dapat mengamalkannya.

Setelah praktik fiqih janaiz ini, pak ustadz menutup dengan kalimat "Alangkah indahnya jika semua fardhu kifayah ini dapat dilakukan oleh anak-anak sendiri". Karena kematian akan pasti datangnya. Tiket antrian menuju kesana pun sudah ada pada kita. Tinggal menunggu gilirannya saja. Mempersiapkan diri bak pulang ke kampung halaman dengan "oleh-oleh" yang banyak adalah hal terbaik. Termasuk pula mempersiapkan anak-anak yang siap akan memandikan, mengafani dan menyolatkan kita.

Wallahu a'lam bishawab.

#edisibelajarmembaca#

SMP Budisatrya, 6 Juni 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Betul sekali itu Bunda. Terkadang saya msh melihat untuk mengajikan jenazah di upahkan ..sedih lihatnya..

06 Jun
Balas

Iya bucan, itulah kenyataannya. Semoga kelak anak-anak kita yang akan melakukannya sendiri untuk kita. Aamiin yaa robbal alaamiin. Jazakillah khoir...bucan. Barakallah.

06 Jun

Semoga kita bisa mempersiapkan dg sebaik2nya Bund.

06 Jun
Balas

Insyaa Allah, Aamiin ya robbal alaamiin. Jazakillah khoir. Barakallah....ibu.

06 Jun

Ilmu yang harus dimiliki anak sejak sekarang sehingga nanti setelah dewasa minimal bisa mengurus mayat keluarganya sendiri. Barakallah bunda

06 Jun
Balas

Betul bunda. Semoga anak-anak kita dapat mengamalkannya. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Jun

Trimakasih Bunda, sudah diingatkan... Semoga saya dapat mengajarkan itu kepada anak-anak

06 Jun
Balas

Alhamdulillah, jazakillah khoir. Ini dalam rangka mengningatkan diri sendiri juga, bunda Nia. Semoga kelak anak-anak dapat melakukannya untuk kita. Aamiin. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Jun

Kegiatan yang sangat positif untuk menyadarkan siswa dan kita semua bahwa apa pun yang kita miliki tidak dibawa ketika meninggal. Kecuali tiga hal, di antaranya anak yang sholeh dan selalu mendoakan ortunya. Kegiatan ini sangat menyentuh hati. Jadi trenyuh bu, semoga menjadikan kita lebih dekat dengan Allah. Makasih telah berbagi bu Nana. Keren ini, bisa menginspirasi sekolah lain.

06 Jun
Balas

Kegiatan yang sangat positif untuk menyadarkan siswa dan kita semua bahwa apa pun yang kita miliki tidak dibawa ketika meninggal. Kecuali tiga hal, di antaranya anak yang sholeh dan selalu mendoakan ortunya. Kegiatan ini sangat menyentuh hati. Jadi trenyuh bu, semoga menjadikan kita lebih dekat dengan Allah. Makasih telah berbagi bu Nana. Keren ini, bisa menginspirasi sekolah lain.

06 Jun
Balas

Alhamdulillah , jazakillah khoir...bu Eko. Mungkin ini bisa menjadi bagian dari PPK...njih bu ? Sangat terenyuh ketika ada yang meninggal tetapi tidak ada anggota keluarga yang mampu melakukan fardhu kifayah itu. Sangat miris lagi bahkan untuk menyolatkan pun tidak. Nauzubillah. Semoga anak-anak kita kelak mampu melakukannya untuk kita. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali