Raihana Rasyid

Lahir dan menetap di Medan ,07 September 1967.Alumni IKIP Negeri Medan Jurusan Pendidikan Biologi. Tenaga pendidik di SMA Negeri 14 dan SMP BUDISATRYA Medan....

Selengkapnya
Cadar di Antara Ketidakjujuran
Sumber: gambar kartun muslimah bercadar, muklisin.

Cadar di Antara Ketidakjujuran

Tak bisa dimungkiri jika dalam bekerja selalu ada keinginan untuk bisa mendapatkan penghasilan lebih dari gaji yang sudah ditetapkan setiap bulannya. Usaha untuk bisa meraih insentif dan bonus yang dijanjikan jika kinerja baik, selalu diupayakan.

Ada rasa kecewa jika reward itu tak bisa diraih. Apalagi jika ternyata teman-teman seprofesi dapat meraihnya sementara diri ini tidak. Kegundahan hati semakin bertambah-tambah saja rasanya.

Seharusnya demikian pula dalam menjalankan kewajiban kepada Sang Khalik. Ada ibadah yang hukumnya wajib, ada pula yang sunah. Meski tak sedikitpun berkurang kebesaran Allah karena manusia tidak penuhi kewajibannya. Lantas dimana rasa syukur kita sebagai hamba yang telah menerima begitu banyak nikmat dari-Nya jika tidak laksanakan kewajiban?

Dengan rahmaan dan rahiim-Nya, Allah janjikan berbagai kebaikan sebagai balasan untuk tiap-tiap ibadah yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ibadah wajib melepaskan dosa jika dilaksanakan, rugi dirasa jika tidak dapatkan kebaikan dari ibadah sunah yang dijanjikan.

Apa bedanya dengan keinginan mendapatkan insentif dan bonus selain dari gaji yang diterima setiap bulannya? Mengapa tidak berusaha untuk bisa meraih kebaikan dari banyak ibadah sunah yang berisi fadilat berjuta kebaikan di sisi-Nya?

Jika hanya ibadah wajib yang dilaksanakan, karena itu memang kewajiban sebagai mahluk ciptaan-Nya. Tak ada nilai tambah. Ibarat bekerja, hanya gaji pokok yang didapatkan. Minus intensif dan bonus.

Salah satu ibadah sunah yang bisa dilaksanakan bagi muslimah adalah mengenakan cadar. Walau sebenarnya beberapa mazhab justru mewajibkannya.

Baik pendapat mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali, sama-sama berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunah (dianjurkan) dan menjadi wajib di hadapan lelaki ajnabi (lelaki yang bukan sanak saudara dekat : hukumnya boleh menikah antara laki-laki dan perempuan), karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

Dari penjelasan di atas, dapat pula diketahui bahwa cadar(niqob) merupakan syariat Islam dari keempat mazhab yang ada. Dengan kata lain, BUKAN BUDAYA TIMUR TENGAH.

Jika demikian, di mana letak kesalahannya jika seorang muslimah memakai cadar? Bukankah memakai cadar menjadi bagian ibadah sunah yang menjadi ladang bonus pahala bagi yang melakukannya?

Menjadi pilihan tiap individu untuk meraih bonus dan insentif dari ibadah sunah yang dilakukannya. Tetapi tetap saja bahwa semua itu menjadi pilihan pribadi masing-masing.

Kejujuran merupakan hal yang paling utama harus ada di dalam hati setiap kali memandang sebuah persoalan. Sayangnya, ini yang hampir hilang dari dalam hati.

Seringkali ada rumpang dalam hati yang disisipi oleh ketidakjujuran sehingga dapat memengaruhi lisan bahkan tindakan dalam menghadapi permasalahan yang muncul. Ini pula yang kemudian membuat seseorang menjadi tidak objektif.

Pengambilan keputusan tidak lagi dilandasi kejujuran namun lebih kepada “rasa” yang memenuhi hati. Kaitannya dengan masalah cadar, ketidakjujuran sedang menguasai hati manusia.

Ada banyak lelaki yang tidak jujur, mau mengakui bahwa ada rasa “nyaman” tiap kali ia memandangi wajah “kinclong” seorang wanita yang notabene bukan muhrimnya.

Demikian pula tak sedikit wanita yang dengan tulus mau mengakui bahwa ia ingin dipuji dengan tampilan wajahnya. Berhati-hatilah, jika kemudian bermunculan kalimat-kalimat yang dipergunakan sebagai tameng bagi ketidakjujuran itu. Pernyataan-pernyataan untuk pembelaan dari ketidakjujuran yang membungkus hati.

Tulisan ini, hanya ingin menyampaikan pesan: “Biarkanlah mengenakan cadar menjadi bagian dari ibadah sunah sebagaimana pelaksanaan ibadah sunah lainnya. Jangan mencibir, menghina, mengolok-olok, apalagi menuduh untuk suatu tindakan hanya karena didasarkan perbuatan segelintir oknum. Syariat Islam tak sebutir debu pun mengajarkan kesalahan. Karena Allah Maha Suci. Sesungguhnya kejujuran hati akan membawa pemiliknya bagi hidup yang aman damai di dunia dan akhirat.”

Wallahu a’lam bishowab

#edisisavecadar#

Rumahku, Menggapai Mardhatillah, 8 Nopember 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Masya Allah, semoga Allah senantiasa menjaga, melindungi dan menolong umi Raihanah dan saudari-saudari muslimah bercadar lainnya, yang sudaha lebih dulu ingin menggapai bonus-bonus pahala amalan sunnah. Semoga istiqomah ya ummi

09 Nov
Balas

Bismillah..., semoga Allah beri kekuatan di hati ini. Jazakillah khoir telah melengkapi tulisan sederhana ini, Bu Guru. Salam sehat, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah....Bu Fitri.

10 Nov

Masya Allah, sungguh nonjok banget Kak sampai ke dasar hati. Sungguh benar paparan Kakak, aku yang belum mampu raih bonus itu. Padahal adem rasanya lihat yang bercadar. Teruntai doa untuk kakakku tercinta semoga rahmat Allah terlimpah dan barakallahu fiik

09 Nov
Balas

Tak sedikit pun bermaksud main tonjok-tonjokkan. Hanya untuk menguatkan diri sendiri saja, Deq. Jzakillah khoir untuk kunjungan dan doa yang tiada henti. Salam seht, bahagia, dan sukses selalu. Barakallah, Deqquuu.

10 Nov
search